Responsive image
Kamis, 2019-06-27 , 12:23:17 WIB

Melirik Keunikan Bahasa Skouw Yang Terancam Punah


Jayapura - Dekat dengan megahnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, masyarakat sekitarnya justru terancam terpisah dari bahasa ibunya sendiri. Bagaimana bisa?

Dilansir dari Detik.com Bahasa Skouw ini  diwarisi oleh suku yang mendiami tiga kampung, yakni Skouw Yambe, Skouw Mabo, dan Skouw Sae. Ketiganya termasuk daerah administratif Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua. 

Tiga kampung Skouw terletak tak jauh dari PLBN yang berbatasan dengan Wutung, Papua Nugini di sebelah timurnya. PLBN Skouw sendiri sudah menjadi daya tarik masyarakat Kota Jayapura bahkan warga Indonesia pada umumnya, terutama setelah bangunan baru yang lebih besar diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 9 Mei 2017 lalu. 

Lokasi dapat diakses dari Kota Jayapura dengan mobil dalam waktu perjalanan sekitar 1,5 jam hingga 2 jam, jaraknya sekitar 40 km. Aspal mantap memudahkan lalu-lintas. Berdasarkan data Distrik, jalanan telah dibangun secara bertahap sejak dulu, dimulai sejak pembukaan jalan dari Koya Timur ke Skouw dengan pengaspalan pada 1997. 

Koya Timur adalah kelurahan yang terbentuk tahun 1984, dulunya merupakan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Koya Timur yang diisi orang-orang dari Pulau Jawa. Jarak antara Koya Timur ke kampung Skouw sekitar 10 km. 

Ada ribuan orang yang hidup di tiga kampung yang terletak di tapal batas ini. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura 2016, Skouw Yambe punya penduduk 640 orang, Skouw Mabo 650 orang, dan Skouw Sae 635 orang. Mata pencarian mereka rata-rata adalah petani dengan sistem bercocok tanam sederhana.

Sejumlah penduduk Skouw Mabo saat ini sangat lancar berbahasa Indonesia. Anak-anak kecil usia Sekolah Dasar (SD) juga berbicara dengan Bahasa Indonesia. Soal Bahasa Skouw, salah seorang penduduk paruh baya memberi kesaksian tentang kelestarian bahasanya.

"Umumnya Bahasa Skouw itu kita omong, generasi saya," kata warga asli Kampung Skouw Mabo berusia 57 tahun, Holiap T Palora.

"Kalau generasi ke bawah saya sudah hilang karena tidak tahu Bahasa Skouw. Jadi itu benar kalau Bahasa Skouw disebut mau punah,” ujar Holiap sambil mengunyah sirih pinang.

Dikutip dari Kompas.com kondisi Bahasa Skouw ini telah menjadi sorotan. Tim dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan penelitian pada 2015, disusun dalam laporan "Peran Bahasa dan Kebudayaan dalam Konteks NKRI: Potret Sosial Budaya Penutur Bahasa Skouw di Perbatasan Indonesia-Papua New Guinea". Imelda dari LIPI, menulis draf laporan penelitian Tim Papua 2016 dengan judul "Kontak Bahasa di Antara Penutur Skouw: Sebuah Berkah atau Musibah". 

Penelitian lain yang dilakukan oleh Mark Donohue (National University of Singapore, 2004) dalam 'A Grammar of the Skou Language of New Guinea' menjelaskan Bahasa Skouw punya unsur rumpun Bahasa Austronesia sekaligus unsur rumpun Bahasa Papua. Namun Bahasa Skouw dinyatakannya berbeda dengan bahasa-bahasa tetangganya, kecuali melalui penyesuaian-penyesuaian interaksi sosial yang membutuhkan saling pengertian dalam komunikasi, misalnya saat orang Skouw Sae bercakap-cakap dengan orang Wutung Papua Nugini. 

Soal jumlah penutur Bahasa Skouw, Leolita Masnun dan sejumlah peneliti dari LIPI mengadakan survei yang melibatkan 150 responden di tiga kampung Skouw tahun 2015. Hasilnya menunjukkan Bahasa Indonesia lebih sering dipakai ketimbang Bahasa Skouw. Padahal, Bahasa Skouw adalah warisan nenek moyang mereka.

"Dengan kata lain, bahasa Skouw yang merupakan bahasa ibu mulai tergantikan bahasa Indonesia," tulis Imelda.

Ada pula bahasa Pijin (Tok Pisin), yakni Bahasa Inggris kreol khas Papua Nugini, yang digunakan orang-orang Skouw untuk berkomunikasi dengan warga negara Papua Nugini. Ada salah satu marga di Skouw Sae yang punya pertalian keluarga dengan salah satu etnik di Papua Nugini.

Dari 150 responden, sebanyak 75 orang menyatakan Bahasa Indonesia adalah bahasa pertama mereka. Hanya 63 orang yang menjawab bahwa Bahasa Skouw adalah bahasa pertama mereka. Adapun 12 orang sisanya menggunakan bahasa lain sebagai bahasa pertama. 

Kemampuan bahasa orang Skouw maksimal bisa menguasai tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Skouw, dan Bahasa Pijin. Namun sebanyak 86 orang mengaku tak bisa berbahasa ketiga, alias hanya bisa berbahasa Indonesia dan Skouw saja.

Soal pentingnya penguasaan bahasa, 120 dari 150 responden di Skouw menilai penguasaan bahasa daerah itu penting. Sebanyak 62 dari 150 responden berpendapat kalau mau menjadi bagian dari suku, maka orang itu harus mampu berbicara dalam bahasa sukunya. Di sisi lain, 75 responden Skouw menilai penguasaan bahasa Indonesia itu penting. 

Sebanyak 86 orang dari 150 orang berpandangan bila mau berhasil di tempat kerja maka seseorang perlu berbahasa Indonesia yang baik. Ada 95 dari 150 orang yang menilai, kalau mau melanjutkan pendidikan maka seseorang perlu menguasai Bahasa Indonesia. Imelda membaca hasil survei ini dan menilai Bahasa Skouw berada di bawah bayang-bayang Bahasa Indonesia.

"Hal ini karena ketika berbicara mengenai bahasa daerah, mereka bicara mengenai identitas, sementara ketika berbicara mengenai Bahasa Indonesia mereka berbicara mengenai masa depan (pendidikan dan ekonomi). Hal yang paling bisa diduga ialah bahwa di masa depan bahasa daerah ini tidak akan bertahan karena tidak menguntungkan secara ekonomis," tutur Imelda.

Aspal mulus hingga sekolah pengaruhi bahasa. Terjadi kontak bahasa antara penutur Bahasa Skouw dan Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu Papua. 

Kontak bahasa inilah yang juga punya peranan dalam sejarah hidup-matinya suatu bahasa, termasuk Bahasa Skouw. Bahasa yang lebih kuat akan mendominasi bahkan mematikan bahasa yang lebih lemah. 

Dalam kasus orang Skouw yang berkontak dengan Bahasa Indonesia, mereka tidak kesulitan mengadopsi Bahasa Indonesia karena sejak era penjajahan Belanda, mereka sudah diajari Bahasa Melayu dan akhirnya berkembang menjadi Bahasa Melayu Papua. 

Penyebaran agama Kristen dan sekolah minggu yang mereka ikuti juga disampaikan lewat Bahasa Melayu. Kini sekolah formal yang diikuti generasi muda Skouw tentu saja menggunakan Bahasa Indonesia.

Saat berkunjung ke Skouw Mabo, detikcom menemui Ondoafi (kepala adat) Yans Mahil Mallo (60). Berbicara di teras rumahnya yang tak jauh dari tangfa (rumah adat) dan pantai, dia melihat ada tiga faktor yang menyebabkan bahasa kampungnya terancam punah. Pertama, faktor masyarakatnya sendiri, pendidikan yang menggunakan Bahasa Indonesia, dan pembangunan.

Kontak bahasa dipermudah dengan pembangunan infrastruktur jalan yang dimulai sejak 1980-an. Jalan aspal mempermudah distribusi hasil bumi, juga mendorong mereka untuk terus berbahasa Indonesia karena perlu berinteraksi dengan orang luar sukunya. 

Kini kampung-kampung Skouw dengan Kota Jayapura bahkan sudah terhubung oleh aspal mulus. Ini mempengaruhi kelestarian bahasa juga.

"Jadi perkembangan ke depan, dengan adanya jalan bagus, infrastruktur ini bagus, ya itu tantangan besar yang saya hadapi. Tantangannya besar. Laju pembangunan," kata Yans Mahil Mallo kepada detikcom.

Kontak bahasa punya sisi positif dan negatif. Namun berdasarkan penelitian LIPI terlihat bahwa kontak bahasa justru menjadikan orang-orang Skouw sebagai masyarakat yang semakin berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

"Kontak bahasa yang terjadi telah membawa orang Skouw dari kondisi bilingual/multilingual menjadi monolingual," kata Imelda.


(Humas BNPP dan Sumber lain)

VIDEO BNPP
LOKASI KANTOR BNPP

BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN
REPUBLIK INDONESIA


(National Border Management Authority Republic of Indonesia)
Jl. Kebon Sirih No. 31


Jakarta Pusat - Indonesia
Telp: (021) 3142142

Fax: (021) 31924491

Website: www.bnpp.go.id

Email : info@bnpp.go.id

LAPOR
LPSE
ARORA