Responsive image
Rabu, 2019-07-10 , 11:19:20 WIB

Natuna Siap Menyandang Status Geopark Internasional Dari UNESCO


NATUNA - Natuna sebagai salah satu daerah perbatasan akan ditetapkan sebagai kawasan Geopark Internasional. Ini adalah kabar baik setelah Pencanangan Gerakan Pembangunan Terpadu Kawasan Perbatasan (Gerbangdutas) tahun 2017 di Natuna dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Polhukam Wiranto yang menjadi Ketua Pengarah Pengawas Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo yang juga Ketua BNPP.

Sekjen Global Geopark Network UNESCO Guy Martini telah mengunjungi kawasan Geopark Nasional Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (22/12/2018).

Guy Martini tiba bersama tim Geopark UNESCO. Rombongan disambut langsung Asisten Administrasi Umum Izwar Asfawi, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Hardinansyah, Kepala Dinas Pariwisata Natuna Erson Gempa Afriandi, dan Kepala Bappeda Moestafa.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Dinas Pariwisata Natuna, Erson Gempa Afriandi mengatakan, berbagai terobosan terus dilakukan dalam rangka mempersiapkan Natuna menjadi geopark dunia. Status ini akan semakin mengangkat nama Natuna.

“Insya Allah tahun ini akan segera kita siapkan dan akan melatih kelompok pengelola. Jadi nanti disetiap Geosite akan ada pengelola yang terlatih dan akan dibangun jejaring kerja, sehingga mereka akan saling bersinergi,” ujar Erson (10/7/2019).

Sebagai informasi sertifikat penetapan Natuna sebagai kawasan Geopark Nasional telah diterbitkan oleh Komite Nasional Geopark Indonesia di Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhir November 2018 silam.

Kabupaten Natuna memiliki banyak situs, termasuk batu granit berusia lebih dari 100 juta tahun. Bidang budaya dan sejarah juga tidak kalah menarik, termasuk tradisi pantun di Kepulauan Riau yang sedang diajukan menjadi salah satu warisan budaya dunia melalui UNESCO.

Potensi laut Natuna juga bisa menjadi geopark maritim. Apalagi Natuna masuk dalam sejarah Jalur Rempah Nusantara. Dalam sosialisasi itu banyak terungkap potensi daerah yang belum banyak diketahui, bahkan oleh masyarakat Natuna sendiri.

Natuna selama seribu tahun menjadi titik penting jalur pelayaran dari Laut China Selatan ke Samudera Hindia. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit (abad ke-7 hingga ke-11) Kepulauan Natuna telah menjadi pusat bandar laut internasional.

Tercatat lebih dari 10 ribu artefak sudah diverifikasi dan telah diteliti para arkeolog. Diantaranya berbagai peninggalan China dari era Dinasti Tang, Chung, Yuang, Ming, dan Qing, serta peninggalan dari kerajaan di Vietnam, Thailand, Khmer, Jepang, Iran, dan Eropa.

Tidak hanya itu, Natuna juga kaya peninggalan dari berbagai kerajaan di Nusantara. Dan itu merupakan bukti sejarah bahwa natuna adalah bandar laut makmur di era keemasan Sriwijaya dan Majapahit.

Setidaknya ada 8 geoside yang masuk dalam Geopark Natuna. Yaitu Pulau Akar, Batu Asah, Gunung Ranai, Pantai Gua, Kamak, Pulau Senua, Pulau Stanau, Senubing, dan Tanjung Datuk.

Luas kawasan yang dimiliki Natuna memang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Ia terbentang dari bagian selatan hingga ke utara, dan menutupi hampir separuh sisi timur Pulau Bunguran.

Geopark adalah konsep manajemen pengembangan suatu kawasan secara berkelanjutan, dengan memadukan tiga keanekaragaman alam. Yaitu geologi (geodiversity), hayati (biodiversity), dan budaya (culturaldiversity).

Konsep tersebut berpilar pada aspek konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan penumbuhan nilai ekonomi lokal melalui geowisata.

Selain itu, geopark mengharuskan sebuah kawasan tidak boleh berubah bentuk alaminya. Karenanya, perlu melibatkan masyarakat untuk menjaga dan mengolahnya. Sehingga, kawasan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata, tempat penelitian, konservasi flora-fauna dan sebagainya.

Dari konsep ini, nantinya akan menjadi acuan bagi pemerintah dalam menentukan arah pembangunan. Bisa saja, 30 tahun yang akan datang, masyarakat masih bisa menikmati indahnya batuan granit dengan pemandangan yang sama seperti sekarang ini.

Hal itu pula yang membuat pengembangan daerah wisata di Natuna harus turut mempertimbangkan aspek keamanan dan kedaulatan negara.


(Humas BNPP dan Sumber lain)

VIDEO BNPP
LOKASI KANTOR BNPP

BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN
REPUBLIK INDONESIA


(National Border Management Authority Republic of Indonesia)
Jl. Kebon Sirih No. 31


Jakarta Pusat - Indonesia
Telp: (021) 3142142

Fax: (021) 31924491

Website: www.bnpp.go.id

Email : info@bnpp.go.id

LAPOR
LPSE
MATERI
ARORA
Rakordal