Responsive image
Rabu, 2019-08-07 , 07:34:18 WIB

Pelaku Penebangan Liar Ditangkap di Wilayah Perbatasan RI-Malaysia

SAMBAS - Komitmen dan keseriusan memberantas kejahatan lingkungan dan kehutanan terus ditunjukkan oleh pemerintah.

Dilansir dari Bisnis.com, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut kerugian negara akibat kejahatan lingkungan hidup mencapai Rp17,8 triliun. Jumlah kerugian yang cukup besar ini baru dari aksi penebangan liar atau Ilegal logging.

Komitmen ini dibuktikan dengan penangkapan 17 orang pelaku illegal logging di Kawasan Hutan Lindung Gunung Bentarang Desa Sungai Bening, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, dekat perbatasan RI-Malaysia yang ditangkap pada Jumat (2/8/2019) lalu.

"Komitmen dan keseriusan memberantas kejahatan lingkungan dan kehutanan terus ditunjukkan oleh pemerintah. Kami komit untuk menindak siapapun pelaku kejahatan LHK. Lebih dari seribu operasi telah dilakukan," tegas Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani dalam keterangan tertulis, Selasa (6/8/2019). 

Ketujuh belas pelaku yang ditangkap yaitu RS (40 th), AM (40 th), IN (34 th), TRS (35 th), PRV (53 th), SYH (43 th), DN (26 th), KRS (21 th), AL (22 th), AND (23 th), MM (44 th), XNS (28 th),BG (26 th), ARD (33 th), KRN (35 th), JT (25 th), RN (20 th). Penyidik KLHK telah menetapkan 6 orang sebagai tersangka yaitu RS (40 thn), AM (40 thn), IN (34 thn), TRS (35 thn), PRV (53 thn) dan SYH (43 thn) sebagai tersangka sedangkan kesebelas orang lainnya berstatus sebagai saksi.

Kejahatan penebangan liar ini tidak hanya merugikan negara tapi menghancurkan ekosistem. Rasio berharap agar masyarakat dapat bekerjasama dengan aparat untuk memberantas kejahatan penebangan liar. KLHK sedang melakukan beberapa operasi gabungan bersama TNI dan Kepolisian.

"Untuk menangani kejahatan Pembalakan liar, Tim kami terus memantau lokasi-lokasi yang terindikasi adanya pembalakan ilegal, Kami menugaskan kepada SPORC serta penyidik untuk secara intensif memantau lapangan dan menindak tegas siapa pun yang terlibat pembalakan ilegal," sambung Rasio.

Kepala Balai Gakkun KLHK Kalimantan menjelaskan bahwa operasi tangkap tangan ini merupakan bagian dari kegiatan operasi gabungan di perbatasan. Penyidik menetapkan 6 orang sebagai tersangka. Sedangkan 11 orang lainnya berstatus sebagai saksi. 

Subhan menegaskan tersangka tersebut diancam dengan Pasal 82 Ayat (1) huruf c dan Pasal 83 Ayat (1) huruf b dan atau Pasal 84 Ayat (1) UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan hutan, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun, plus denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 2,5 miliar. Saat ini para tersangka ditahan di Polda Kalbar.

Terdapat barang bukti berupa 2 (dua) unit chainsaw merk STHIL, 10 (sepuluh) buah parang, 2 (dua) unit sepeda motor, 6 (enam) buah bentor, 4 (empat) dirigen yg berisi bensin dan oli, ratusan batang kayu log dan olahan jenis belian dan meranti yang masih berada dilokasi telah dilakukan pengamanan dan penyisihan sebagai barang di Mako Sporc Brigade Bekantan Pontianak. Dilokasi ditemukan pondok-pondok dan rel untuk mengeluarkan kayu sepanjang 5 km.

Penyidik KLHK yang menangani kasus ini sedang mendalami berapa orang nama yang diduga sebagai aktor intelektual dan cukong. Penyidik akan terus berkoordinasi POM Kodam XII Tanjungpura, Korwas PPNS Ditreskrimsus Polda Kalbar untuk mengusut dan mengungkap pelaku lainnya yang menyuruh dan memodali aktifitas pembalakan liar di Kawasan Hutan Perbatasan RI- Malaysia.

(Humas BNPP dan Sumber lain)

VIDEO BNPP
LOKASI KANTOR BNPP

BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN
REPUBLIK INDONESIA


(National Border Management Authority Republic of Indonesia)
Jl. Kebon Sirih No. 31


Jakarta Pusat - Indonesia
Telp: (021) 3142142

Fax: (021) 31924491

Website: www.bnpp.go.id

Email : info@bnpp.go.id

LAPOR
LPSE
ARORA