Menu
RSS

Kejar Ketertinggalan, Kawasan Perbatasan Meranti Butuh Sejumlah Pembangunan Infrastruktur Utama

Kep Meranti (foto:istimewa) Kep Meranti (foto:istimewa)

BNPP - Kawasan perbatasan  di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, memerlukan sejumlah pembangunan infrastruktur untuk membuka keterisolasian dan mengejar ketertinggalan demi memenuhi kebutuhan warga.

Demikian dikatakan Kabag Pengelola Perbatasan Kabupaten Meranti, Efialdi, saat mengunjungi kantor Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Rabu (24/1). Menurutnya, Meranti yang menduduki posisi teratas untuk tingkat kemiskinan di Provinsi Riau, merupakan kawasan perbatasan laut di Selat Malaka yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura.

"Infrastruktur yang diperlukan, pertama, jalan poros di 4 pulau besar (Pulau Rangsang, Pulau Merbau, Pulau Padang dan Pulau Topang) agar bisa terkoneksi antar desa dan antar kecamatan. Kemudian pelabuhan laut antar pulau dan desa terpencil sehingga terkoneksi dengan kabupaten dalam rangka merangkai pulau," kata Efialdi.

Selain itu, pembangunan jembatan untuk menghubungkan pulau atau melintasi sungai besar. Keempat,  pembangunan dua kantor camat di Kecamatan Pulau Merbau, yang saat ini menumpang di bangunan sekolah, dan di Kecamatan Tasik Putri Puyu yang menumpang di kantor desa.

Kelima, pembangunan gedung sekolah SD, SMP, SMA berikut rumah dinas guru dan kantor majelis guru yang saat ini masih memakai ruang kelas belajar (banyak guru berasal dari pulau lain), serta gedung perpustakaan sekolah.

"Lalu, rumah dinas paramedis atau bidan untuk di puskesmas dan rumah bidan desa. Ketujuh, pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) laut di  desa Tanjung Kedabu sebagaimana duu telah ditetapkan bersama KemenPUPR dalam tata ruang atau titik patok negara ada di desa ini," ujarnya.

Tak hanya itu, diperlukan penanganan bencana abrasi yang kian menggerus pantai, terutama di pesisir Selat Malaka sepanjang 76km dari sekitar 200km garis pantai yang langsung menghadap Selat Malaka. Hal ini, menurutnya, memerlukan penanganan serius dengan biaya yang cukup besar untuk dibuat pemecah gelombang. Akibat abrasi, saat  ini sudah ada yang 3km dari tebing garis pantai landai ke tempat air yang dalam dikala air pasang. Akibatnya, banyak kebun, ruas jalan, tempat pemakaman hingga rumah warga yang 'terjun' ke laut. 

Dijelaskan, dalam setahun abrasi bisa menggerus 10-50m pantai (tergantung jenis tanahnya), karena pulau disana 85 persen tanahnya gambut dan 15 persen tanah liat. Tinggi tanah dari permukaan laut tertinggi 1 meter, banyak rawa dan tidak ada batu sama sekali.

"Pengadaan air bersih dan pembangunan pos angkatan laut dan pos polisi dan babinsa desa di kawasan terdepan yang menghadap Selat malaka juga dirasa penting untuk mengantisipasi keluar masuknya kejahatan transnasional di 'jalur tikus'."

 

 

(Humas BNPP)

 

Terakhir dimodifikasi padaSelasa, 06 Februari 2018 11:59
Info for bonus Review William Hill here.