Menu
RSS

Guru di Perbatasan NTT, Kalimantan & Papua Ikuti Pelatihan Kader Bela Negara Utama

(Foto: dok Kemenag) (Foto: dok Kemenag)

BNPP - Sebanyak 45 guru peserta Bina Kawasan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam (Ditjen PAI) Kementerian Agama diajak untuk memperluas wawasan keagamaan siswa. Khususnya ditengah problem keagamaan yang seringkali disebabkan wawasan yang terlalu sempit dan kerapkali terjebak pada klaim kebenaran. 

Hal ini ditekankan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terhadap 45 guru di sejumlah wilayah perbatasan Indonesia dalam Pelatihan Kader Bela Negara di Gedung Garuda Istana Bogor, Senin (01/05/2018). Antara lain di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan dan Papua. Mereka dihadirkan di Bogor dalam rangka mengikuti kegiatan Pengembangan Islam Rahmatan lil Alamin dan Perspektif Multikultural yang dengan tema 'Penguatan Moderasi Islam dan Bela Negara'.

"Problem kita bagaimana umat diperluas wawasannya, bukan dipersempit.  Sering pengajaran agama bukan memperluas tapi justru mempersempit wawasan karena pendekatan doktriner seakan ini benar dan yang lain salah," kata Menag dalam arahannya.

Disampaikan, kemajemukan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia di hampir semua aspek, termasuk pemahaman dan pengamalan keagamaan. Hal ini perlu dijelaskan kepada peserta didik sejak dini. Karenanya, guru agama harus dapat menjelaskan nilai-nilai agama dengan memadai sehingga masyarakat bisa menyikapi keragaman pemahaman secara arif.  

Kepada paraguru yang bertugas di wilayah perbatasan, terdepan, terluar dan juga tertinggal (3T), ia meminta agar nilai-nilai agama tetap terjaga dan terpelihara dengan baik sehingga tidak hanya kehidupan keagamaan yang terawat, tapi juga ke-Indonesiaan. 

Dalam kesempatan itu, Lukman mendengarkan masukan guru yang bertugas dari NTT. Dimana dalam penuturannya bertugas di kawasan minoritas Muslim. Penduduk Muslim di daerahnya hanya 9 persen.  Meski demikian, dia mengaku toleransi umat sangat tinggi. Dalam berbagai kegiatan keagamaan Islam  misalnya, banyak pemuda Kristen yang membantu melakukan penjagaan masjid.  

Nur Syamsiah, guru PAI yang ditempatkan di Meumere, Papua, berharap pemerintah mengirim ustadz dan ustadzah ke Papua, khususnya di daerah tempatnya mengajar. Kata dia, interaksi umat beragama di Kokoda sangar bagus. Antar umat beragama saling menghormati dan menghargai. Namun keberadaan guru agama masih kurang. 

"Mereka menghendaki pengiriman ustadz dan ustadzah untuk pesantren yang mereka miliki. Masjid sudah ada tapi mereka belum bisa berkegiatan. Ustadz dan ustadzah yang tidak hanya ngerti agama tapi juga pandai bermasyarakat," harapnya. 

Masukan yang sama disampaikan salah satu guru PAI dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dimana ia menyampaikan tokoh agama di perbatasan Malaysia itu sangat kurang. 

Sementara itu Direktur Pendidikan Agama Islam Imam Safei mengungkapkan bahwa Bela Negara dapat diwujudkan melalui penguatan karakter diri dalam berkepribadian, berbudaya serta menjunjung tinggi rasa cinta kepada tanah air. 

Karena itu, semangat bela negara jangan hanya diartikan sebagai gerakan wajib militer atau militerisasi. Bela negara juga bisa dipahami sebagai upaya membangun sikap anak negeri untuk penguatan moderasi Islam dalam menyadari hak dan kewajibannya bagi negara.

"Apapun profesi yang digeluti, bela negara adalah kewajiban yang harus kita junjung demi pengembangan moderasi Islam Rahmatan lil 'Alamin. Makna Bela Negara sangat luas. Para Guru PAI terpilih ini wajib menjalankan perannya di daerah terpencil, dan itu juga bisa dikatakan sedang melakukan bela negara," ucapnya.

Menurut Imam, para Guru yang mengabdi di perbatasan dan telah mengharumkan nama bangsa, bisa pula dikategorikan sebagai bela negara. Termasuk juga mereka yang aktif menjaga kelestarian budaya, peduli pada lingkungan, aktif mencegah penyalahgunaan narkoba, gerakan melawan kejahatan, dan juga para pejabat negara yang menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan tanggungjawab. Semua itu adalah bagian dari bela negara.

Direktur PAI mengajak semua Guru PAI untuk memahami dan tidak mengartikan bela negara secara sempit. Kader Bela Negara harus aktif mengimplementasikan pemahaman ini secara lebih masif agar semangat bela negara menjadi spirit bagi setiap rakyat Indonesia melalui Program Bina Kawasan (Bantuan Insentif Pembinaan Keagamaan di Kawasan Perbatasan).

Lebih lanjut Imam mengingatkan, bahwa untuk terlibat aktif dalam bela negara melalui Guru Bina Kawasan, tentu membutuhkan jasmani yang sehat, fisik yang kuat, serta semangat perjuangan yang tinggi. Oleh sebab itu, latihan fisik dan mental selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari semangat bela negara.

"Latihan fisik dan mental sangat dibutuhkan, selain untuk membentuk jasmani yang sehat dan disiplin yang tinggi, juga untuk mendidik kita agar memiliki semangat pantang menyerah. Spirit itulah yang akan diajarkan kepada Guru PAI melalui kegiatan ini. Dengan memahami spirit itu, saudara diharapkan dapat lebih memaknai semangat nasionalisme dan bela negara," kata Imam.

Diharapkan, pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan ini dapat menjadi pedoman untuk memperkuat semangat dan cinta kepada bangsa dan negara. Dengan demikian,  guru Bina Kawasan dengan segenap jiwa raga siap menjalankan misi bela negara dari berbagai potensi yang mengusik kedaulatan bangsa.

Bela Negara melalui Program Guru Bina Kawasan mewujudkan Moderasi Islam ini dikuti 45 Guru PAI terpilih. Semangat bela negara diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Bela negara merupakan sikap dan perilaku warga yang dijiwai oleh kecintaannya terhadap kesatuan dan persatuan bangsa di bawah NKRI.

"Kita harus menyadari, bahwa kemajuan teknologi yang kian pesat, diperkuat lagi semarak globalisasi di berbagai sektor kehidupan berpotensi menghadirkan ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Hal itu dapat kita lihat dari rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat, tingginya angka pelanggaran hukum, dan kurang pekanya kita terhadap lingkungan," ucap Imam.

Ia menambahkan, saat masyarakat tidak mau lagi peduli dengan kesadaran berbangsa dan bertanah air, ketika spirit bela negara menjadi lemah, itulah saatnya Guru PAI sebagai kader bela negara melalui Bina Kawasan hadir di tengah-tengah masyarakat.

"Untuk mengantisipasi hal ini, penguatan semangat bela negara perlu kita tingkatkan kembali. Saya berharap, kehadiran kader Guru PAI Bina Kawasan ikut aktif dalam Gerakan Bela Negara di Bogor dapat mensosialisasikan semangat ini kepada seluruh masyarakat, sehingga mengedepankan semangat Guru PAI dalam menjaga keimanan NKRI," demikian Imam Safei. (Humas BNPP)

Terakhir dimodifikasi padaRabu, 02 Mei 2018 07:47
Info for bonus Review William Hill here.