Menu
RSS

Upaya Meranti Kejar Ketertinggalan

  • Diterbitkan pada berita

BNPP - Kabupaten Kepulauan Meranti (Provinsi Riau) yang resmi berpisah (pemekaran)  dari Kabupaten Bengkalis pada 2009, merupakan kawasan perbatasan laut di Selat Malaka yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura.

 

Meranti yang sampai saat ini masih menduduki posisi teratas untuk tingkat kemiskinan di Provinsi Riau, memerlukan sejumlah sarana dan prasarana agar terlepas dari keterisolasian dan ketertinggalan. 

Pada masa awal sesudah pemekaran, pemerintah setempat mengutamakan pengadaan listrik (elektrifikasi) yang saat ini sudah terpenuhi 95 persen. Sementara untuk infrastruktur pembangunan jalan, terlebih dahulu mengutamakan di pusat kota (kabupaten) atau pusat-pusat kegiatan ekonomi.

Seiring perkembangannya, warga sejumlah desa di Kabupaten Meranti membutuhkan pembangunan infrastruktur mulai dari pembangunan jalan hingga sarana pendidikan untuk melancarkan aktifitas perekonomian dan menggapai masa depan penuh harapan anak-anak di wilayah perbatasan laut ini.

Sekretaris Daerah, Yulian Norwish, menekankan pentingnya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kegiatan ekonomi kreatif yang berorientasi pasar. Hal ini diyakini dapat mengatasi kemiskinan yang ada di Meranti. Ekonomi kreatif berorientasi pasar juga merupakan upaya perwujudan visi misi Kabupaten Kep Meranti untuk menjadi badar niaga yang madani.

"Pemecah gelombang untuk atasi abrasi yang terus menggerus pesisir pulau Selat Malaka 5 - 50m setahun, serta kemudahan dalam pelayanan publik untuk infrastruktur pemerintah," kata Yulian, dalam keterangan yang diterima Senin (5/2).

Kemudian pembangunan jalan poros, baik pengaspalan atau dengan pengerasan base, perlu dilakukan agar inter koneksi antar desa serta kecamatan dapat berjalan lancar. Pembangunan infrastruktur pelabuhan antar kecamatan, jembatan penyambung antar sungai yang ada di setiap pulau, juga dinilai penting agar tak menjadi hambatan transportasi antar desa. 

"Lalu pembangunan kantor camat Tasik Putri Puyu dan kantor camat Pulau Merbau yang masih menumpang di sekolah atau kantor desa," jelasnya.

Sekolah dan puskesmas untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan warga pun belum terbangun. Sarana penunjang seperti perumahan khusus untuk guru, tenaga medis, aparat kecamatan dan TNI-Polri di lokpri dirasa perlu didirikan agar mereka betah 'menghuni' di perbatasan.

Infrastruktur dan sarana untuk menjaga keamanan di wilayah perairan kawasan perbatasan juga menjadi sorotan. Bahkan, perlu penguatan pengamanan di pos AL, Babinsa dan Polsek, untuk menghalau keluar masuknya kejahatan transnasional di 'jalur tikus'. 

Atas sejumlah kebutuhan inilah, pihak Pemkab Kepulauan Meranti akan menyiapkan dokumen penunjang yang dikordinasikan dengan pihak terkait. Bahkan, usulan pembangunan juga dimuat dalam e-planing dan e-proposal sehingga legalitas usulan diakui.

Kabag Pengelola Perbatasan Kabupaten Meranti, Efialdi, memastikan segera merekap  usulan yang masuk untuk ditindaklanjuti ke tingkat provinsi dan BNPP RI, agar selanjutnya bisa diteruskan kepada kementerian/lembaga terkait. 

"Semoga kawasan perbatasan dapat menjadi beranda terdepan negara," tutur Efialdi.

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) sebelumnya mengimbau pemerintah daerah untuk lebih detail dalam mengajukan permohonan pembangunan infrastruktur maupun kebutuhan sosial dasar di daerahnya, dalam hal ini kawasan perbatasan.

Kelengkapan dokumen terhadap apa yang mau dibangun menjadi hal yang wajib dipenuhi. Misal, permohonan pembangunan jalan seperti yang diajukan 12 kepala desa Kabupaten Kepulauan Meranti belum lama ini. Pemerintah setempat diminta untuk menelusuri status jalan yang ada di lokasi yang ingin dibangun, apakah statusnya jalan nasional, provinsi atau jalan kabupaten. Sehingga, memudahkan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembangunan jalan tersebut.

BNPP saat ini berupaya untuk memenuhi pembangunan  di kawasan perbatasan. Salah satunya dengan melakukan koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hal ini agar percepatan pembangunan infrastruktur di perbatasan segera terlaksana.

Terkait aturan, kabupaten atau daerah memberikan usulan agar masuk dalam Musrenbang. BNPP dalam hal ini mengawal dan tidak dalam posisi memutuskan.

 

 

(Humas BNPP)

Lebih lanjut...

Kejar Ketertinggalan, Kawasan Perbatasan Meranti Butuh Sejumlah Pembangunan Infrastruktur

  • Diterbitkan pada berita

BNPP - Kawasan perbatasan  di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, memerlukan sejumlah pembangunan infrastruktur untuk membuka keterisolasian dan mengejar ketertinggalan demi memenuhi kebutuhan warga.

Demikian dikatakan Kabag Pengelola Perbatasan Kabupaten Meranti, Efialdi, saat mengunjungi kantor Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Rabu (24/1). Menurutnya, Meranti yang menduduki posisi teratas untuk tingkat kemiskinan di Provinsi Riau, merupakan kawasan perbatasan laut di Selat Malaka yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura.

"Infrastruktur yang diperlukan, pertama, jalan poros di 4 pulau besar (Pulau Rangsang, Pulau Merbau, Pulau Padang dan Pulau Topang) agar bisa terkoneksi antar desa dan antar kecamatan. Kemudian pelabuhan laut antar pulau dan desa terpencil sehingga terkoneksi dengan kabupaten dalam rangka merangkai pulau," kata Efialdi.

Selain itu, pembangunan jembatan untuk menghubungkan pulau atau melintasi sungai besar. Keempat,  pembangunan dua kantor camat di Kecamatan Pulau Merbau, yang saat ini menumpang di bangunan sekolah, dan di Kecamatan Tasik Putri Puyu yang menumpang di kantor desa.

Kelima, pembangunan gedung sekolah SD, SMP, SMA berikut rumah dinas guru dan kantor majelis guru yang saat ini masih memakai ruang kelas belajar (banyak guru berasal dari pulau lain), serta gedung perpustakaan sekolah.

"Lalu, rumah dinas paramedis atau bidan untuk di puskesmas dan rumah bidan desa. Ketujuh, pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) laut di  desa Tanjung Kedabu sebagaimana duu telah ditetapkan bersama KemenPUPR dalam tata ruang atau titik patok negara ada di desa ini," ujarnya.

Tak hanya itu, diperlukan penanganan bencana abrasi yang kian menggerus pantai, terutama di pesisir Selat Malaka sepanjang 76km dari sekitar 200km garis pantai yang langsung menghadap Selat Malaka. Hal ini, menurutnya, memerlukan penanganan serius dengan biaya yang cukup besar untuk dibuat pemecah gelombang. Akibat abrasi, saat  ini sudah ada yang 3km dari tebing garis pantai landai ke tempat air yang dalam dikala air pasang. Akibatnya, banyak kebun, ruas jalan, tempat pemakaman hingga rumah warga yang 'terjun' ke laut. 

Dijelaskan, dalam setahun abrasi bisa menggerus 10-50m pantai (tergantung jenis tanahnya), karena pulau disana 85 persen tanahnya gambut dan 15 persen tanah liat. Tinggi tanah dari permukaan laut tertinggi 1 meter, banyak rawa dan tidak ada batu sama sekali.

"Pengadaan air bersih dan pembangunan pos angkatan laut dan pos polisi dan babinsa desa di kawasan terdepan yang menghadap Selat malaka juga dirasa penting untuk mengantisipasi keluar masuknya kejahatan transnasional di 'jalur tikus'."

 

 

(Humas BNPP)

Lebih lanjut...

Indeks Daya Saing Infrastruktur Indonesia Melesat ke Posisi 52 Dunia

  • Diterbitkan pada berita

BNPP - Kepala Pusat Pengembangan Kawasan Strategis, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Hadi Sucahyono, mengatakan, indeks daya saing infrastruktur Indonesia (GCI) mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada tahun 2017-2018. Dari sebelumnya pada posisi 60 di tahun 2016-2017, pada tahun ini merangkak naik ke ranking 52. 

Lebih lanjut...
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.