Menu
RSS

Indonesia Keren di Perbatasan

  • Ditulis oleh 

 

MARI jalan-jalan ke perbatasan, merasakan sensasi dengan langkah maju mundur, seolah telah keluar masuk negara lain, menyapa para tentara yang menjaga kedaulatan negara, juga mengobrol dengan warga negeri tetangga yang masih menjadikan Indonesia sebagai rumah keduanya. Acara melancong istimewa itulah yang saya lakukan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) otaain, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada penghujung Oktober lalu.

 

Berkendara kurang dari sejam dari pusat Kota Belu, melintasi jalanan mulus dengan aspal yang masih terlihat hitam, perjalanan akan terasa menyenangkan. Ya, kini jalur Kupang-Atambua sepanjang 270 km telah mulus seiring dengan komitmen pemerintah untuk memberdayakan wilayah di penjuru Nusantara. Pemandangan yang dramatis dari hijaunya daun yang berpadu dengan pohon-pohon yang meranggas dan dengan rumah-rumah beratap seng bisa dinikmati dari kanan dan kiri jalan.

Lalu, sampailah di muka PLBN yang pembangunannya telah memasuki tahap penyelesaian akhir. Gedung-gedung bercat putih itu atapnya menyerupai Matabesi, rumah tradisional masyarakat Belu. Ada pula struktur atap Mbaru Niang, rumah adat di Wae Rebo yang pada 2012 meraih UNESCO Asia Pacific Heritage Awards. Adopsi kultur lokal itu menjadi kemasan istimewa bagi PLBN yang terdiri atas zona inti berupa Gerbang Tasbara dan Pos Jaga, Karantina Tumbuhan dan Hewan, Pemeriksaan Imigrasi, Jembatan Timbang, Pemeriksaan X-Ray Kendaraan, Bea Cukai, serta Lambang Negara Indonesia. Selain itu, ada pula zona subinti dan pendukung, yaitu Wisma Indonesia, mes karyawan serta sarana lainnya.

Sembilan perbatasan

Beberapa langkah saja dari proyek pembangunan PLBN Motaain yang termasuk dalam proyek strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) itu, kita akan melewati tugu batas yang ditandatangani pada 30 Agustus 2005 oleh Menteri Luar Negeri Indonesia yang saat itu dijabat Hasan Wirajuda dan Jose Ramos Horta yang ditulis sebagai Menteri Senior Bidang Luar Negeri dan Kerja Sama Republik Demokratik Timor Leste.

PLBN kita bangun, mohon maaf yang lama kita rubuhkan untuk dibangun yang baru dan harus lebih baik dari negara tetangga,” tegas Menteri PU-Pera Basuki Hadimuljono saat menghadiri groundbreaking Perumahan Green Sorong, Kabupaten Sorong, Papua Barat, (2/9). Pembangunan di kawasan perbatasan negara, kata Basuki, memang menjadi program prioritas Kabinet Kerja. Selain di NTT, PLBN dibangun di Entikong, Kalimantan Barat, dan Papua. Pembangunan infrastruktur itu dinaungi Inpres No 6 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan tujuh PLBN Terpadu dan Sarana Prasarana Penunjang di Kawasan Perbatasan. Di NTT, selain di Motaain yang disertai pengembangan kawasan permukiman seluas 9,61 ha, infrastruktur serupa dibangun di Motamasin dengan luas 9,33 ha dan di Wini dengan seluas 4,08 ha.

Melangkah ke Leste

Sapalah para tentara berseragam hijau yang berjaga, dengarkan kisah mereka tentang tugas di perbatasan ini yang dirasa jauh lebih menyenangkan ketimbang di garis batas Indonesia lainnya di pegunungan. “Sinyal susah, sepi sekali, hanya ada angin. Di sini bisa lihat macam-macam. Jadi walaupun sama-sama jauh dari kampung halaman, tetap masih enak di sini. Namun, semuanya tugas negara,” kata Prajurit Dua Ridho, tentara asal Banyumas, Jawa Tengah, yang kini tengah menjalani pertengahan masa tugasnya sebelum mendapat penugasan berikutnya.

Ucapkan izin pada mereka untuk memasuki wilayah perbatasan. Lalu, lewati jembatan Sungai Motaain yang lebarnya 5 meter yang bermuara di pantai berpasir putih di sebelahnya, kita akan sampai di pos perbatasan Timor Leste. “Kalau dibandingkan dengan pos Timor Leste memang bangunan kita yang sebelumnya kalah. Namun dengan pembangunan sekarang, tentunya akan lebih baik. Semuanya terintegrasi, mulai urusan migrasi hingga terminal penumpang,” kata Samuel, petugas karantina PLBN Motaain.

Di titik terujung Timor Leste, tersedia toko duty free yang menyediakan minuman beralkohol, yang diklaim bisa puluhan persen lebih murah. Namun, jika hanya ingin swafoto atau dipotret dengan latar tulisan Timor Leste di jembatan atau tugu perbatasan, tunaikan saja dengan santai karena para petugas perbatasan negeri tetangga itu pun terbilang hangat menyambut saudara tua mereka. Saya tertawa kecil bersama penjual lotere yang sibuk melayani pelanggannya. “Di Indonesia ilegal, di sini halal. Kamu mau beli juga bisa ha ha ha,” kata dia sambil tersenyum lebar.

Tak lagi miris

Seusai berpamitan dengan para petugas dan warga di tapal batas, mengamati langsung bagaimana perbedaan wilayah tak sanggup memisahkan kekerabatan dan kultur, saya naik kembali ke kendaraan sewaan. Kali ini buat menikmati Pelabuhan Atapupu yang juga tengah berbenah, kini memisahkan area buat kapal penumpang dan barang. Laut yang biru nan resik dengan embusan angin yang lembut membuat kegiatan melancong mengamati kesibukan awak pelabuhan bongkar muat itu menjadi pengisi sore yang seru. Indonesia Timur terus bekerja, perbatasan dikuatkan, roda ekonomi makin kencang, dan acara menjelajahi Nusantara bakal lebi menyenangkan. (Zat

 

Sumber : http://mediaindonesia.com

Info for bonus Review William Hill here.