|
Berita
Berita BNPP
Mangan di Perbatasan NTT–Timor Leste, Potensi Sumber Daya Strategis bagi Indonesia
Dibuat Admin BNPP
30 Aug 2025, 12:10 WIB
Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI
Di sepanjang garis perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Republik Demokratik Timor Leste, tersimpan kekayaan alam yang jarang terungkap dalam percakapan publik, tetapi memiliki arti strategis bagi masa depan Indonesia yakni, mangan.
Mineral berwarna abu-abu keperakan ini mungkin terlihat sederhana, namun perannya sangat vital dalam menopang peradaban modern. Dari baja yang menjadi fondasi infrastruktur hingga baterai kendaraan listrik yang kini mendominasi pasar global, mangan hadir dalam denyut kehidupan sehari-hari.
Selama ini, NTT lebih dikenal sebagai wilayah dengan bentang savana, ladang jagung, dan budaya yang kuat. Namun di balik perbukitan batu kapur, tersimpan cadangan mangan berkadar tinggi yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Diperkirakan sekitar 70 persen cadangan dan 60 persen sumber daya mangan nasional berada di NTT. Potensi ini menempatkan kawasan perbatasan sebagai aset strategis Indonesia dalam peta energi dan industri global.
Mineral Vital di Era Modern
Lebih dari 90 persen produksi mangan dunia digunakan dalam industri baja. Tanpa mangan, baja akan mudah rapuh dan kehilangan daya tahannya. Dalam industri baterai, mangan dioksida menjadi bahan penting dalam baterai kering dan baterai kendaraan listrik yang kini kian dibutuhkan di tengah transisi energi global.
Selain itu, mangan juga dimanfaatkan dalam proses kimia, pigmen, pupuk, bahkan dalam metabolisme tubuh manusia. Singkatnya, mangan adalah mineral strategis yang perannya tak tergantikan.
Potensi di Wilayah Perbatasan
Pulau Timor Barat, terutama Kabupaten Timor Tengah Utara, Kupang, dan Belu, memiliki cadangan mangan yang melimpah. Beberapa penelitian menunjukkan kadar MnO₂ di TTU bahkan mencapai hampir 90 persen, jauh di atas standar kadar ekonomis rata-rata.
Seorang warga perbatasan di Belu, pernah berkata dengan nada lirih: “Kami tahu tanah kami mengandung batu mangan yang mahal. Tapi bagi kami, harganya tidak pernah terasa. Yang kami dapat hanya debu dan lubang-lubang besar," ucap Yosefina.
Di Belu, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, kualitas mangan juga terbukti sangat baik dengan sedikit pengotor, menjadikannya incaran industri pertambangan.
Keunggulan kualitas ini memberi peluang besar bagi Indonesia untuk menempatkan diri sebagai pemain penting dalam rantai pasok global, asalkan potensi tersebut dikelola secara berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat lokal.
Tantangan dalam Pengelolaan
Besarnya potensi mangan di NTT tidak lepas dari berbagai tantangan. Masalah perizinan yang tumpang tindih, dampak lingkungan akibat tambang ilegal, serta kesejahteraan masyarakat yang belum terangkat menjadi pekerjaan rumah yang serius.
Banyak lahan pertanian yang rusak karena galian, sementara keuntungan lebih banyak dinikmati oleh pihak luar. Ditambah lagi, infrastruktur yang terbatas membuat biaya logistik dan produksi menjadi tinggi, sehingga menghambat minat investasi.
Persoalan hilirisasi juga menjadi tantangan utama. Bijih mangan dari NTT masih sering diekspor dalam bentuk mentah. Padahal, jika diolah menjadi feromangan atau bahan baku baterai, nilai ekonominya bisa berlipat ganda dan membuka peluang lapangan kerja baru di daerah perbatasan.
Dimensi Geopolitik dan Strategi Nasional
Letak cadangan mangan di kawasan perbatasan menambah bobot strategisnya. Sumber daya ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki arti geopolitik.
Jika dikelola dengan baik, mangan dapat menjadi motor penggerak pembangunan perbatasan. Sebaliknya, jika dibiarkan dikuasai secara ilegal, ia berpotensi memicu kerawanan sosial dan keamanan.
Seorang tokoh adat di perbatasan Belu–Malaka, mengingatkan: “Batas negara itu rapuh kalau rakyatnya miskin. Kalau mangan hanya dinikmati orang luar, anak-anak muda bisa marah, dan perbatasan jadi rawan," ucap Ama Dominggus.
Karena itu, pengelolaan mangan harus dilakukan dengan pendekatan holistik: regulasi yang sederhana, infrastruktur memadai, penguatan hilirisasi, serta perhatian pada aspek sosial dan lingkungan.
Pembangunan smelter di kawasan perbatasan dapat menjadi langkah konkret agar nilai tambah mineral ini dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia.
Mangan adalah anugerah strategis yang diberikan alam bagi NTT, khususnya di kawasan perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Potensinya sangat besar untuk menopang pembangunan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Namun, peluang itu hanya akan terwujud bila dikelola secara profesional, adil, dan berkelanjutan.
Dari tanah yang kerap dianggap kering dan tandus, sesungguhnya tersimpan masa depan energi dan industri Indonesia. Inilah saatnya menjadikan mangan sebagai berkah bagi masyarakat perbatasan sekaligus sebagai aset bangsa di panggung global.
(Humas BNPP RI)
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru
PLBN Motamasin Fasilitasi UNBK Siswa SMPN 3 Metamauk Akibat Gangguan Listrik dan Jaringan Internet di Kawasan Perbatasan
Mangan di Perbatasan NTT–Timor Leste, Potensi Sumber Daya Strategis bagi Indonesia
PLBN Aruk Perkuat Koordinasi Lintas Instansi untuk Optimalkan Pelayanan dan Pengawasan Perbatasan Negara
PLBN Aruk Dukung Pengendalian Karhutla di Perbatasan Sambas
BNPP Upayakan Jalan Damai Konflik Warga Inbate dengan Aparat Timor Leste
Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2025