Logo BNPP
Badan Nasional Pengelola PerbatasanRepublik Indonesia (BNPP RI)
Beranda

|

Berita

Berita BNPP

Kekah Natuna: Primata Langka di Pulau Perbatasan yang Menjadi Simbol Keunikan Nusantara

Dibuat Admin BNPP

31 Aug 2025, 15:58 WIB

Kekah Natuna: Primata Langka di Pulau Perbatasan yang Menjadi Simbol Keunikan Nusantara

Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI


Di ujung utara Nusantara, tepatnya di Pulau Bunguran Besar, Natuna, terdapat kehidupan unik yang tidak akan ditemukan di tempat lain di dunia. Namanya kekah (Presbytis natunae), primata endemik yang hanya menjadikan pulau perbatasan Indonesia ini sebagai rumah satu-satunya. Tidak ada di Sumatra, Jawa, Kalimantan, apalagi di luar negeri.


Keberadaan kekah menjadi penanda bahwa Indonesia bukan hanya kaya akan sumber daya alam dan strategis secara geopolitik, tetapi juga memiliki warisan hayati yang tidak ternilai.


Sayangnya, satwa ini masih jarang dikenal oleh masyarakat luas, tidak seperti orangutan, bekantan, atau tarsius yang sudah menjadi ikon konservasi, kekah masih hidup dalam “kesunyian” di hutan Natuna.


Satwa Pemalu dari Rimba Perbatasan


Kekah memiliki ciri khas yang menawan, ia memiliki bulu abu kecokelatan dengan wajah pucat menyerupai topeng putih. Sifatnya pemalu, lebih senang berdiam di kanopi hutan dibanding berinteraksi dengan manusia.


Inilah yang membuat keberadaannya jarang terlihat, seakan menjadi hantu rimba yang hanya menyisakan suara samar pada pagi hari.


Meski tidak populer, kekah menyimpan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, kehidupannya mencerminkan kesehatan hutan Natuna.


Selama suara mereka masih terdengar, artinya hutan masih hidup. Namun ketika suara itu semakin jarang, menjadi tanda bahwa habitatnya kian terdesak.


“Kalau pagi buta, suara mereka terdengar samar dari rimba. Tapi sekarang makin jarang terdengar,” kata Amir, seorang warga Desa Sepempang yang sudah puluhan tahun hidup di tepi hutan.


Ancaman Kepunahan yang Membayangi


Populasi kekah terus mengalami penurunan. Penelitian awal tahun 2000-an memperkirakan jumlahnya masih puluhan ribu ekor, namun kini diperkirakan hanya tersisa sekitar lima hingga tujuh ribu ekor. Angka ini pun belum pasti, mengingat habitat mereka semakin terfragmentasi dan sulit dipantau.


Meski jarang dibicarakan, ancaman kepunahan bagi kekah sangat nyata. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan spesies ini dalam kategori Vulnerable atau rentan punah. Namun banyak peneliti yang khawatir statusnya seharusnya lebih buruk: Critically Endangered alias sangat terancam punah.


Penyebab utamanya adalah aktivitas manusia: alih fungsi lahan menjadi perkebunan, penebangan hutan, pembangunan jalan, hingga perburuan liar. Kekah sangat bergantung pada hutan rimba dengan tajuk pohon tinggi. Begitu habitatnya berkurang, peluang bertahan hidup mereka pun ikut menyempit.


“Hilangnya hutan berarti hilangnya rumah bagi kekah,” jelas Dr. Lestari, peneliti konservasi imajiner yang sudah beberapa kali meneliti di Natuna.


Pulau Strategis dengan Dua Wajah


Natuna sering disebut sebagai “benteng utara” Indonesia karena posisinya yang strategis di Laut Natuna Utara. Kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia karena potensi minyak, gas, dan sengketa wilayah laut. Pemerintah memperkuat pos militer, membangun infrastruktur, dan meningkatkan pengawasan kedaulatan negara.


Namun di balik gegap gempita geopolitik itu, ada kekah yang hidup dalam kesunyian hutan. Pulau ini memikul dua beban sekaligus: menjaga batas kedaulatan negara dan melindungi satwa langka yang hanya ada satu-satunya di dunia.


“Banyak orang bicara Natuna karena minyak dan gas, atau karena kapal asing. Padahal ada kehidupan lain yang sama pentingnya, tapi jarang terdengar,” ujar Dr. Lestari.


Untuk melihat kekah, seseorang harus rela berjalan jauh ke dalam hutan Bunguran Besar. Jalan menanjak, melewati akar-akar raksasa dan semak yang lebat. Sesekali terdengar suara burung enggang, sesekali suara ranting patah yang menandakan ada kehidupan lain di kanopi.


“Lihat, itu kepalanya,” kata Rahman, pemandu lokal yang sudah terbiasa menelusuri hutan Natuna. Dari kejauhan, samar terlihat wajah putih pucat muncul di balik dedaunan. Kekah sedang memperhatikan dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, sebelum menghilang cepat seolah ditelan pepohonan.


Momen singkat itu seakan membenarkan betapa rapuh kehidupan mereka. Satu detik terlihat, satu detik kemudian hilang. Sama rapuhnya dengan masa depan mereka jika hutan terus berkurang.


Suara dari Masyarakat


Bagi masyarakat Natuna, keberadaan kekah bukan hanya soal satwa liar, tetapi bagian dari identitas. Banyak cerita rakyat yang menggambarkan kekah sebagai makhluk penunggu hutan, penjaga rimba, bahkan simbol keanggunan.


“Kami percaya kalau hutan tetap ada, kekah tetap ada. Kalau hutan hilang, berarti kami juga kehilangan bagian dari diri kami,” kata Mak Jamilah, seorang penenun tradisional di Ranai. Bagi perempuan tua ini, kekah adalah “penanda alam masih sehat.” Ia mengaku sering mendengar suara kekah di masa muda, ketika hutan masih rapat dan sungai masih jernih. Kini, katanya, suara itu semakin jarang.


Kekah Dibandingkan Primata Endemik Lain


Indonesia dikenal sebagai rumah berbagai primata khas: orangutan di Sumatra dan Kalimantan, bekantan di tepi sungai Kalimantan, hingga tarsius bermata besar di Sulawesi. Semuanya telah menjadi ikon pariwisata dan konservasi internasional.


Namun berbeda dengan mereka, kekah justru masih jarang dikenal. Padahal, posisinya lebih spesial. Jika orangutan masih tersebar di dua pulau besar, bekantan di beberapa wilayah Kalimantan, dan tarsius di banyak titik Sulawesi, maka kekah hanya ada di satu pulau kecil: Bunguran Besar. Satu ancaman serius terhadap pulau ini bisa berarti lenyapnya seluruh spesies dari muka bumi.


Menjadi Cermin bagi Indonesia


Kekah akhirnya menjadi cermin bagi Indonesia, apakah Indonesia hanya peduli pada satwa yang populer di mata dunia, atau juga mampu menjaga satwa kecil yang sunyi? Apakah kekayaan alam hanya dihitung dari nilai ekonomi dan politik, atau juga dari keunikan hayati yang membedakan Nusantara dengan bangsa lain?


Natuna tidak hanya dikenal karena cadangan energi atau letak strategisnya. Ia juga menyimpan keajaiban yang seharusnya menjadi kebanggaan: kekah sebagai simbol keanekaragaman hayati di perbatasan negara.


Seorang aktivis muda Natuna, mengungkapkan keresahannya, “Kalau kami hanya bicara soal minyak dan gas, dunia akan ingat Natuna karena energi. Tapi kalau kami bicara soal kekah, dunia akan ingat Natuna karena keajaiban alamnya. Menurut saya, lebih indah dikenang karena alam daripada hanya karena konflik geopolitik," ucap Siti.


Penutup: Menjaga Warisan Tak Tergantikan


Menjaga kekah berarti menjaga wajah Indonesia di mata dunia. Jika satwa ini punah, bukan hanya Natuna yang kehilangan identitas, tetapi Indonesia juga kehilangan bagian dari warisan unik yang tidak dimiliki bangsa lain.


Pulau Bunguran Besar bukan sekadar benteng pertahanan. Ia adalah rumah bagi kehidupan yang langka. Kekah, dengan wajah putihnya yang misterius, adalah pengingat bahwa pembangunan dan kedaulatan tidak boleh mengabaikan ekologi.


Pilihan ada di tangan kita: membiarkan kekah hilang menjadi sejarah, atau menjadikannya simbol kehidupan yang tetap lestari di perbatasan negeri.



(Humas BNPP RI)

Share

Kategori Berita

Berita BNPP

945

PLBN

522

Berita Nasional

70

Berita Perbatasan

252

Pers Rilis

38

Berita Utama

725

Berita Terbaru

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/81f4f881-5799-436f-94af-57ed5a432c80.jpg

Kekah Natuna: Primata Langka di Pulau Perbatasan yang Menjadi Simbol Keunikan Nusantara

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/7830eaad-8356-41f2-b780-f750dc1e955f.jpg

Pulau Sepandan Jadi Destinasi Ekowisata Unggulan di Perbatasan Indonesia-Malaysia

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/54964c96-0573-4c96-9503-a3981227715d.jpg

PLBN Serasan Raih Juara Empat Turnamen Sepak Bola se-Pulau Serasan dalam Semarak HUT ke-80 RI

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/b2937e19-c0bb-4eeb-878f-9cebeff137b9.jpg

PLBN Motamasin Fasilitasi UNBK Siswa SMPN 3 Metamauk Akibat Gangguan Listrik dan Jaringan Internet di Kawasan Perbatasan

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/e64272d5-aa93-4f78-a3cf-12a86eeaf91d.png

Mangan di Perbatasan NTT–Timor Leste, Potensi Sumber Daya Strategis bagi Indonesia

Berita Terkait
Logo BNPP

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)

Location Icon

Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340

Phone Icon

021-31924491

Email Icon

info@bnpp.go.id

White Facebook Icon
White Twitter Icon
White Instagram Icon
White Tiktok Icon
White Youtube Icon

© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2025