|
Berita
Berita BNPP
Menggali Emas Biru Nusantara: Momentum Integrasi Ekowisata Maritim dalam Kerangka BIMP-EAGA dan IMT-GT
Dibuat Admin BNPP
01 Nov 2025, 11:02 WIB



Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote.
Diapit oleh Samudera Hindia dan Pasifik, laut bagi Indonesia bukan sekadar hamparan air asin, tetapi sumber kehidupan, identitas budaya, dan masa depan ekonomi bangsa.
Namun, di balik keindahan dan kekayaan yang melimpah, potensi ekonomi biru Indonesia masih menyisakan tantangan besar. Kekayaan bahari yang luar biasa belum sepenuhnya terkelola secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Di sinilah momentum kerja sama subregional seperti BIMP-EAGA (Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area) dan IMT-GT (Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle) menjadi peluang strategis untuk mendorong integrasi ekowisata maritim Indonesia ke panggung global.
Surga Bahari yang Belum Tergarap
Indonesia menyimpan ribuan surga bawah laut kelas dunia. Raja Ampat di Papua Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, hingga Alor di Nusa Tenggara Timur, semuanya dikenal sebagai rumah bagi ribuan spesies ikan tropis, terumbu karang berwarna-warni, dan ekosistem laut yang menakjubkan.
Namun, sebagian besar potensi tersebut masih tersembunyi oleh keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, dan promosi yang belum masif di tingkat global.
Masyarakat pesisir seperti di Lamalera, Lembata, misalnya, masih mempertahankan tradisi perburuan paus secara ritual, yang sesungguhnya merefleksikan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam. Sementara di Pulau Alor, dugong jinak dan hiu paus menjadi daya tarik ekowisata yang luar biasa.
Semua kekayaan ini membutuhkan strategi pembangunan maritim yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan terintegrasi lintas batas.
Inovasi Wisata Bahari: Dari Kapal Pinisi hingga Hotel Apung
Salah satu aspek yang masih menjadi pekerjaan rumah dalam pengembangan wisata bahari Indonesia adalah ketersediaan fasilitas wisata premium yang mampu menarik pasar global.
Negara-negara seperti Maladewa dan Fiji telah lebih dahulu mengembangkan konsep hotel dan restoran apung, serta kapal pesiar ramah lingkungan.
Indonesia sebenarnya memiliki modal budaya yang unik, seperti kapal pinisi, warisan maritim Bugis yang telah diakui UNESCO. Jika dikembangkan sebagai armada wisata lintas pulau, pinisi dapat menjadi ikon pariwisata maritim yang menggabungkan nilai tradisi dan kemewahan modern.
Lebih jauh lagi, potensi kerja sama dalam kerangka BIMP-EAGA membuka peluang rute wisata laut lintas negara seperti Brunei–Sabah–Sulawesi–Maluku–Papua dengan konsep “Satu Laut, Empat Negeri.”
Sementara dalam kerangka IMT-GT, jalur Penang–Langkawi–Sabang–Danau Toba dapat menjadi rute wisata bahari di kawasan barat Indonesia yang mempererat hubungan antarbangsa di kawasan Asia Tenggara.
Menguatkan Ekonomi Pesisir melalui Ekowisata Terpadu
Pembangunan pariwisata maritim tidak cukup hanya dengan membangun dermaga dan resor, tetapi harus memastikan manfaat ekonomi mengalir hingga ke lapisan masyarakat pesisir.
Konsep ekonomi biru menjadi pondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Dalam konteks ini, BNPP RI melihat peluang bagi kawasan perbatasan untuk menjadi pusat pertumbuhan baru berbasis potensi bahari.
Kawasan seperti Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua Barat berpotensi menjadi simpul ekowisata dalam jaringan BIMP-EAGA, sedangkan wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Riau dapat memainkan peran penting dalam IMT-GT melalui kolaborasi lintas batas di sektor pariwisata dan perdagangan maritim.
Dengan pendekatan ini, nelayan lokal, pengrajin kapal, penyedia bahan pangan laut, hingga pemandu wisata akan menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi biru yang produktif dan berkelanjutan.
Ekowisata Sebagai Wajah Diplomasi Maritim Indonesia
Lebih dari sekadar sektor ekonomi, pengembangan ekowisata maritim merupakan bentuk nyata dari diplomasi kebudayaan dan soft power Indonesia. Melalui kerja sama lintas negara di kawasan BIMP-EAGA dan IMT-GT, Indonesia dapat memperkuat citra sebagai bangsa bahari yang ramah, inklusif, dan berperadaban tinggi.
Kerja sama dalam pelestarian terumbu karang, mitigasi perubahan iklim laut, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata menjadi instrumen penting dalam memperkuat kepemimpinan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
BNPP RI menilai bahwa integrasi ekonomi biru ke dalam strategi pengelolaan wilayah perbatasan akan memperlihatkan bahwa perbatasan bukan lagi batas, melainkan beranda depan Nusantara yang menampilkan wajah sejati Indonesia sebagai negara maritim dunia.
Menjadikan Laut Sebagai Jalan Masa Depan
Kini, laut tidak lagi harus dipandang sebagai pemisah, melainkan sebagai jembatan masa depan. Melalui kerja sama strategis di bawah payung BIMP-EAGA dan IMT-GT, potensi wisata bahari Indonesia dapat melesat menjadi salah satu pilar utama ekonomi nasional, sekaligus memperkuat jejaring persaudaraan antarbangsa di Asia Tenggara.
Tantangan terbesar bukan lagi pada “apa yang kita punya”, tetapi bagaimana kita mengelola, mempromosikan, dan merawatnya secara berkelanjutan. Dengan visi maritim yang kuat, kerja sama lintas batas yang solid, dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, laut Indonesia akan benar-benar menjadi “emas biru” yang membawa kesejahteraan bagi seluruh anak bangsa.
(Humas BNPP RI)
Catatan Kaki
1. ASEAN Secretariat. BIMP-EAGA Cooperation Framework 2021–2025. Jakarta: ASEAN Secretariat, 2022.
2. IMT-GT Secretariat. Blueprint for 2036: Towards Integrated, Innovative, Inclusive, and Sustainable Growth. Kuala Lumpur: IMT-GT, 2021.
3. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Laporan Potensi Ekonomi Biru Indonesia 2023. Jakarta: KKP, 2023.
4. UNESCO. Intangible Cultural Heritage: Pinisi, the Art of Boatbuilding in South Sulawesi. Paris: UNESCO, 2017.
5. Hamidin. Strategi Pengelolaan Kawasan Perbatasan Berbasis Ekonomi Maritim. BNPP RI, 2024.
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

PLBN Skouw Jadi Ruang Edukasi Kebangsaan Lewat Study Tour Siswa SMP Kalam Kudus Jayapura

BNPP RI Identifikasi Tantangan dan Potensi Tou Lumbis Lewat Pengukuran IPKP

PLBN Sota Fasilitasi Kunjungan Ketua Umum YSPN, Tinjau Layanan Lintas Batas RI–PNG

PLBN Skouw Gagalkan Penyelundupan 2,1 Kg Ganja dari Papua Nugini

PLBN Sebatik Meriahkan Pawai Pelajar Hardiknas, Cetak Generasi Unggul Perbatasan

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026