|
Berita
Berita BNPP
Napak Tilas Kultur Budaya dan Tradisi Makanan Masyarakat Entikong-Tebedu
Dibuat Admin BNPP
06 Jul 2025, 17:05 WIB

(Catatan Harian Seorang Kapolsek)
Oleh: Hamidin (Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan RI)
JAKARTA - Di jantung Pulau Kalimantan yang diselimuti kabut dan sejuknya udara hutan tropis, dua wilayah perbatasan berdiri berhadapan, yakni Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia, dan Tebedu di Serian, Sarawak, Malaysia.
Meski berada di dua negara berbeda dan dipisahkan oleh batas negara secara administratif, masyarakat di kedua sisi tersebut tetap hidup dalam satu denyut budaya yang sama, berakar kuat pada identitas Dayak yang telah melintasi zaman dan garis negara.
Entikong, yang sejak tahun 1970-an dikenal sebagai “Jalur Sutera” Kalimantan, telah menjadi pintu gerbang penting dalam lalu lintas manusia dan barang antara Indonesia dan Malaysia.
Sementara Tebedu, sebagai kawasan perbatasan utama di Sarawak, yang tetap mempertahankan pesona kampung halaman dengan atmosfer pedesaan khas Borneo. Kedua kawasan ini tumbuh berdampingan dan bersatu dalam jejaring kultural yang terikat sejarah, suku, dan adat istiadat.
Satu Suku dalam Dua Negara
Masyarakat di Entikong dan Tebedu mayoritas berasal dari rumpun Dayak, khususnya sub-suku Bidayuh, Iban, dan Selako. Ikatan kekerabatan dan kesamaan marga menjadi fondasi kehidupan sosial yang menyatukan mereka melampaui perbedaan negara. Dalam keseharian, pernikahan antarwarga lintas batas menjadi hal yang lumrah, memperkuat ikatan yang telah terjalin jauh sebelum batas negara diberlakukan.
Tradisi adat seperti “bejalai”, yakni perjalanan kedewasaan bagi pemuda Dayak, masih dilestarikan dan dijalani sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Selain itu, Rumah Panjang juga, tetap simbol kebersamaan dan kehidupan kolektif masyarakat Dayak, yang masih berdiri kokoh di berbagai kampung. Di tempat inilah nilai gotong royong tumbuh dan perayaan budaya seperti Gawai Dayak berlangsung meriah sebagai bentuk syukur atas panen yang berlimpah.
Ekonomi Tradisional dan Spiritualitas yang Menyatu
Sebelum pembatasan formal diberlakukan, masyarakat Entikong dan Tebedu menggantungkan hidup pada alam sekitar. Hutan, ladang, dan pasar tradisional menjadi sumber penghidupan utama. Aktivitas bertani, berburu, dan berdagang dilakukan secara serupa di kedua sisi yang menunjukkan kesatuan cara hidup yang terus diwariskan lintas generasi.
Hasil kerajinan tangan seperti tenun, anyaman rotan, dan ukiran kayu menjadi simbol kreativitas yang lahir dari akar budaya yang sama. Sementara itu, nilai-nilai spiritual masyarakat Dayak tetap hidup meski sebagian besar telah memeluk agama Kristen atau Katolik. Kepercayaan terhadap roh leluhur serta pelaksanaan ritual adat seperti "nyabak" (ritual kematian) dan upacara pembukaan lahan menunjukkan bahwa spiritualitas mereka menyatu erat dengan siklus alam dan budaya.
Kuliner: Rasa yang Menyatukan Dua Bangsa
Kesatuan budaya lintas batas ini paling nyata tercermin dalam tradisi kuliner masyarakat Entikong dan Tebedu. Dari dapur rumah panjang hingga pasar tradisional, aroma khas masakan Dayak menyeruak tanpa mengenal batas negara.
Alam yang sama melahirkan bahan makanan yang serupa seperti pucuk ubi, rebung bambu, terung asam, ikan semah, serta hasil buruan seperti ayam hutan dan babi hutan, menjadi santapan harian bagi kedua negara.
Teknik memasak yang diwariskan turun-temurun pun nyaris identik. "Pansuh" (atau "pansoh" di Sarawak), yaitu memasak daging atau ikan dalam bambu bersama rempah seperti daun kesum, serai, dan lengkuas hutan, menjadi hidangan khas yang sangat digemari.
Teknik pengasapan (salai) dan fermentasi (kasam untuk daun ubi, bekasem untuk ikan) juga masih digunakan hingga kini sebagai bentuk pelestarian tradisi sekaligus adaptasi terhadap lingkungan.
Meski istilah penyebutannya berbeda, menu khas yang dinikmati masyarakat tetap sama. Ikan Pansuh di Entikong identik dengan Manok Pansoh di Tebedu. Daun Ubi Tumbuk setara dengan Kasam Daun Ubi, sedangkan Sayur Terung Asam di Entikong memiliki kemiripan rasa dengan Asam Terung Masak Lemak di Tebedu. Lemang, olahan ketan dalam bambu, dan tuak, minuman fermentasi dari beras, juga menjadi bagian penting dari tradisi makan dan minum di kedua kawasan tersebut.
Makanan sebagai Media Diplomasi Budaya
Kesamaan cita rasa dan kekayaan kuliner lintas batas ini membuka peluang besar untuk memperkuat diplomasi budaya di kawasan perbatasan. Festival kuliner lintas negara, promosi produk lokal, dan pertukaran budaya berbasis makanan dapat menjadi strategi untuk mempererat hubungan antarwarga dan antarnegara.
Dalam setiap sajian pansuh atau seteguk tuak yang dibagikan bersama, terdapat pesan simbolik bahwa rasa mampu menyatukan apa yang dipisahkan oleh peta. Entikong dan Tebedu adalah bukti nyata bahwa perbatasan bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan bagi semangat persaudaraan yang terus tumbuh.
Di Balik Batas, Tersimpan Rasa yang Tak Terbagi
Di balik kabut pagi dan semilir angin perbatasan, tradisi dan budaya masyarakat Dayak terus menyala. Bahasa, kepercayaan, dan kuliner mereka menjadi pengikat kuat yang melampaui perbedaan administratif. Entikong dan Tebedu, meski berada di dua negara berbeda, tetap berjalan dalam satu irama. Sebuah harmoni yang membuktikan bahwa budaya dan rasa adalah warisan bersama yang tak pernah mengenal batas.
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

PLBN Motaain Hadirkan Pasar Murah dan Samsat Keliling, Masyarakat Perbatasan Sambut Antusias

PLBN Skouw Gagalkan Upaya Pembawaan Amunisi oleh Pelintas Asal Papua Nugini

Program Kerja 2026 dan Akuntabilitas Anggaran Jadi Fokus BNPP RI dalam RDP Komisi II DPR RI

Arus Balik Lebaran 1447 H di PLBN Skouw Melandai, Posko Kesehatan Tetap Siaga hingga Akhir Maret

PLBN Jagoi Babang Terima Kunjungan Panglima Tentera Darat Malaysia, Perkuat Koordinasi Pengamanan Perbatasan

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026