Logo BNPP
Badan Nasional Pengelola PerbatasanRepublik Indonesia (BNPP RI)
Beranda

|

Berita

Berita BNPP

Menjadikan Laut sebagai Beranda Wisata ASEAN

Dibuat Admin BNPP

29 May 2026, 12:48 WIB

Menjadikan Laut sebagai Beranda Wisata ASEAN

Strategi Konektivitas Turisme Maritim Indonesia dalam Kerangka IMT-GT


Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang terbentang di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Posisi geografis ini menjadikan Indonesia bukan sekadar negara maritim, tetapi sesungguhnya sebuah poros konektivitas kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks kerja sama sub-regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), potensi tersebut semakin strategis karena wilayah Sumatera dan Kepulauan Riau berada tepat pada jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Indonesia dengan Malaysia, Thailand, bahkan Singapura.


Selama ini pembangunan kawasan perbatasan Indonesia masih lebih dominan bertumpu pada pendekatan keamanan dan administrasi. Padahal, di era ekonomi modern, wilayah perbatasan justru dapat menjadi beranda ekonomi dan pusat pertumbuhan baru melalui sektor pariwisata maritim. Di kawasan IMT-GT, jalur laut bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga koridor wisata, perdagangan, budaya, dan investasi. Karena itu, penguatan konektivitas turisme maritim antarnegara harus dipandang sebagai strategi ekonomi nasional jangka panjang.


Kawasan IMT-GT yang dibentuk sejak tahun 1993 mencakup sebelas provinsi Indonesia, sepuluh negara bagian Malaysia, dan enam provinsi Thailand. Kawasan ini memiliki populasi lebih dari 90 juta jiwa dengan tingkat mobilitas regional yang terus meningkat. Wisatawan dari Malaysia, Singapura, dan Thailand memiliki karakteristik perjalanan jarak pendek dengan frekuensi tinggi, terutama menggunakan moda transportasi laut seperti ferry dan kapal cepat. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadikan pelabuhan-pelabuhan perbatasan sebagai pintu masuk wisata regional berbasis maritim.


Keberhasilan kawasan Batam merupakan contoh nyata bagaimana konektivitas laut mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Dengan jarak hanya sekitar 45 menit dari Singapura menggunakan ferry, Batam berkembang menjadi pusat wisata belanja, kuliner, hiburan, dan rekreasi yang sangat diminati wisatawan asing. Ribuan wisatawan masuk setiap hari melalui terminal ferry internasional dan secara langsung menggerakkan hotel, restoran, pusat belanja, transportasi, hingga sektor UMKM lokal. Fenomena ini membuktikan bahwa laut bukan penghalang pembangunan, melainkan jalur percepatan ekonomi.


Namun keberhasilan Batam belum sepenuhnya direplikasi di wilayah lain dalam kawasan IMT-GT. Pelabuhan Belawan di Medan, Sabang di Aceh, hingga berbagai pelabuhan perbatasan lainnya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, layanan CIQ yang belum terintegrasi, konektivitas transportasi lanjutan yang lemah, dan minimnya promosi wisata regional. Akibatnya, potensi wisatawan regional yang sangat besar belum mampu dimanfaatkan secara optimal.


Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat konektivitas fisik dan infrastruktur pelabuhan wisata perbatasan. Terminal penumpang internasional harus dibangun dengan standar modern, bersih, nyaman, aman, dan efisien. Pelabuhan tidak lagi boleh dipandang sekadar titik keluar-masuk orang, tetapi harus menjadi wajah pertama Indonesia di mata wisatawan asing. Kesan pertama wisatawan sering kali menentukan apakah mereka akan kembali atau tidak.


Pembangunan terminal ferry modern, marina untuk yacht, fasilitas kapal pesiar kecil, pusat informasi wisata, kawasan kuliner, serta area komersial berbasis UMKM harus menjadi satu kesatuan dalam desain pelabuhan masa depan. Negara-negara seperti Malaysia dan Singapura telah menunjukkan bagaimana pelabuhan wisata mampu menjadi pusat ekonomi baru yang hidup selama 24 jam. Indonesia harus belajar dari keberhasilan tersebut dengan tetap mempertahankan karakter budaya lokal.


Selain infrastruktur fisik, reformasi pelayanan CIQ (Customs, Immigration, Quarantine) menjadi faktor yang sangat menentukan. Wisatawan modern menginginkan proses perjalanan yang cepat dan sederhana. Pelayanan imigrasi yang lambat, antrean panjang, serta birokrasi yang rumit akan membuat wisatawan memilih destinasi lain yang lebih praktis. Karena itu, penerapan autogate, sistem reservasi digital, pre-arrival clearance, serta integrasi data lintas negara dalam kerangka IMT-GT menjadi sangat penting.


Kerja sama IMT-GT sesungguhnya telah memberikan ruang besar bagi harmonisasi regulasi lintas batas. Indonesia perlu mendorong penyederhanaan visa kawasan, khususnya bagi wisatawan Malaysia dan Thailand yang melakukan perjalanan singkat berbasis wisata maritim. Jika mobilitas orang dipermudah, maka arus wisatawan akan meningkat secara signifikan.


Selanjutnya, konektivitas transportasi lanjutan juga harus diperhatikan secara serius. Banyak pelabuhan perbatasan di Indonesia belum terhubung dengan baik ke destinasi wisata utama. Wisatawan yang turun dari kapal sering kali kesulitan memperoleh transportasi publik yang nyaman dan aman. Padahal, integrasi antara pelabuhan, hotel, pusat wisata, pusat belanja, dan kawasan budaya merupakan bagian penting dari pengalaman wisata.


Dalam konteks ini, konsep “sea to destination connectivity” harus mulai diterapkan. Pelabuhan harus menjadi simpul utama yang terkoneksi langsung dengan kawasan wisata melalui shuttle bus, transportasi digital, jalur wisata terpadu, dan sistem informasi turis berbasis teknologi. Dengan demikian, perjalanan wisatawan menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.


Peningkatan konektivitas maritim juga harus diarahkan untuk memperkuat ekonomi lokal dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kehadiran wisatawan asing hanya akan menjadi angka statistik jika tidak mampu menciptakan perputaran uang di masyarakat lokal. Oleh karena itu, kawasan pelabuhan perlu dikembangkan sebagai pusat konsumsi wisata yang hidup.


Pusat belanja duty-free, pasar UMKM modern, pusat kuliner khas daerah, hingga festival budaya rutin harus menjadi bagian dari ekosistem wisata maritim. Wisatawan Malaysia dan Thailand memiliki ketertarikan tinggi terhadap produk budaya autentik Indonesia, termasuk makanan tradisional, kerajinan tangan, kain lokal, hingga wisata budaya. Jika dikemas secara profesional, sektor ini akan menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan perbatasan.


Dalam kerangka IMT-GT, pengembangan wisata berbasis event juga memiliki potensi sangat besar. Festival budaya lintas negara, lomba yacht internasional, turnamen memancing, festival kuliner Melayu, hingga sport tourism berbasis maritim dapat menjadi magnet wisata regional. Event semacam ini tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas budaya kawasan serta mempererat hubungan antarnegara.


Koridor Medan-Aceh-Thailand merupakan salah satu contoh jalur potensial yang dapat dikembangkan menjadi jalur wisata maritim unggulan IMT-GT. Aceh memiliki sejarah, budaya, dan wisata bahari yang luar biasa, sementara Thailand merupakan pasar wisata regional yang sangat besar. Jika pelayaran ferry internasional reguler dapat diwujudkan secara konsisten, maka jalur ini akan membuka pasar wisata baru yang sangat menjanjikan.


Demikian pula konsep “IMT-GT Maritime Tourism Triangle” yang menghubungkan Batam, Penang, Langkawi, Phuket, hingga Pattaya dapat menjadi model wisata maritim kawasan yang kompetitif di tingkat ASEAN. Indonesia memiliki keunggulan alam, budaya, dan posisi geografis yang sangat strategis untuk menjadi pusat dari jaringan wisata tersebut.


Namun pengembangan konektivitas maritim tidak dapat dilepaskan dari aspek keamanan. Peningkatan arus wisatawan harus diimbangi dengan penguatan pengawasan laut dan pengamanan perbatasan. Laut tidak boleh menjadi celah bagi penyelundupan, perdagangan manusia, narkotika, maupun kejahatan transnasional lainnya. Karena itu, sistem pengawasan maritim berbasis teknologi harus diperkuat melalui radar, Vessel Traffic Services (VTS), patroli laut terpadu, serta pertukaran intelijen antarnegara dalam kerangka IMT-GT.


Penguatan keamanan ini harus tetap menjaga keseimbangan antara pengawasan dan kenyamanan wisatawan. Negara modern bukan hanya negara yang aman, tetapi juga negara yang mampu memberikan pelayanan cepat dan ramah bagi pengunjung internasional.


Di sisi lain, pengembangan konektivitas maritim membutuhkan investasi yang sangat besar. Karena itu, pemerintah harus membuka ruang lebih luas bagi kemitraan publik-swasta (PPP) serta mendorong investasi dari Malaysia, Thailand, dan negara ASEAN lainnya. IMT-GT dapat menjadi platform strategis untuk mempertemukan pemerintah, investor, operator pelabuhan, dan industri pariwisata dalam membangun ekosistem wisata maritim kawasan.


Ke depan, wilayah perbatasan Indonesia tidak boleh lagi dipandang sebagai halaman belakang negara. Wilayah perbatasan harus berubah menjadi beranda depan ekonomi nasional. Laut bukan lagi batas pemisah, melainkan jalur penghubung kemajuan.


Jika Indonesia mampu membangun konektivitas turisme maritim yang modern, aman, cepat, dan terintegrasi dalam kerangka IMT-GT, maka dampaknya akan sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. PAD daerah meningkat, lapangan kerja baru terbuka, UMKM tumbuh, investasi masuk, dan masyarakat pesisir memperoleh manfaat langsung dari pembangunan.


Lebih dari itu, keberhasilan pengembangan konektivitas maritim wisata akan memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan maritim utama ASEAN. Indonesia tidak hanya menjadi negara transit, tetapi menjadi pusat destinasi wisata maritim regional yang disegani.


Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia harus berani mengubah paradigma pembangunan perbatasan. Laut harus dijadikan beranda masa depan bangsa. Dan dalam kerangka IMT-GT, peluang untuk mewujudkan visi tersebut sesungguhnya sudah terbuka sangat lebar.



Humas BNPP RI

Catatan Kaki


1. Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Strategi Nasional Pengembangan Wilayah Perbatasan 2025–2029 (Jakarta: BNPP, 2025).

2. Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle, IMT-GT Framework Agreement and Member Regions (Jakarta: IMT-GT Secretariat, 2024).

3. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Laporan Perkembangan Pelabuhan Perbatasan 2024 (Jakarta: Kemenhub, 2024).

4. ASEAN Tourism Association, ASEAN Cross-Border Tourism Trends Report 2024 (Singapore: ATASA, 2024).

5. World Tourism Organization, Maritime Tourism in Southeast Asia: Growth Prospects and Challenges (Madrid: UNWTO, 2024).

6. Batam sebagai pusat konektivitas wisata maritim Indonesia-Singapura dalam kawasan IMT-GT.

7. Pattaya sebagai salah satu destinasi utama dalam pengembangan koridor wisata IMT-GT.

8. Penang dan Phuket merupakan simpul potensial dalam konsep IMT-GT Maritime Tourism Triangle.

Share

Kategori Berita

Berita BNPP

1226

PLBN

766

Berita Nasional

70

Berita Perbatasan

253

Pers Rilis

41

Berita Utama

725

Berita Terbaru

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/35ae1b51-9dc4-47c1-8230-a1bd51c48fa8.jpeg

Menjadikan Laut sebagai Beranda Wisata ASEAN

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/f3130c53-2897-4b9c-b0a9-c60ea473bc0e.jpeg

Rayakan Idul Adha 1447 H, PLBN Aruk Perkuat Kebersamaan Masyarakat Perbatasan RI–Malaysia

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/71d0876f-823b-466c-985c-88087d9f58b8.jpeg

Mendalami Suku Dayak di Perbatasan

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/70a6198d-4393-41d1-b814-4d998fdae291.jpeg

BNPP RI Sepakati Percepatan Pembukaan Perlintasan Temajuk–Telok Melano, Target Operasional Agustus 2026

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/80ea1353-2875-49c2-a8a5-f8478982aca0.jpeg

BNPP RI Percepat Pembukaan Temajuk–Telok Melano, Arahkan Perbatasan Jadi KEK Pariwisata

Berita Terkait
Logo BNPP

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)

Location Icon

Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340

Phone Icon

021-31924491

Email Icon

info@bnpp.go.id

White Facebook Icon
White Twitter Icon
White Instagram Icon
White Tiktok Icon
White Youtube Icon

© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026