Logo BNPP
Badan Nasional Pengelola PerbatasanRepublik Indonesia (BNPP RI)
Beranda

|

Berita

Berita BNPP

Selat Hormuz dan Selat Malaka: Dua Selat, Satu Jaringan Saraf Komunikasi Dunia

Dibuat Admin BNPP

15 May 2026, 13:44 WIB

Selat Hormuz dan Selat Malaka: Dua Selat, Satu Jaringan Saraf Komunikasi Dunia
Selat Hormuz dan Selat Malaka: Dua Selat, Satu Jaringan Saraf Komunikasi Dunia

Ketika Laut Tidak Lagi Sekadar Jalur Kapal, Tetapi Jalur Kehidupan Digital Global


Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI


Dunia modern hari ini tidak hanya bergerak melalui kapal tanker minyak, kapal kontainer, atau jalur perdagangan laut. Dunia juga bergerak melalui kabel-kabel kecil yang nyaris tidak terlihat manusia, terbentang ribuan kilometer di dasar laut, membawa miliaran data setiap detik. Jika minyak adalah darah ekonomi global, maka kabel serat optik bawah laut adalah sistem sarafnya.


Dan menariknya, dua titik paling penting dari “urat saraf digital dunia” itu berada di kawasan yang sangat dekat dengan kepentingan Indonesia: Selat Hormuz dan Selat Malaka.


Selama ini dunia mengenal Selat Hormuz sebagai jalur energi paling vital di bumi. Hampir seperlima minyak dunia melewati kawasan sempit itu setiap hari. Namun di balik lalu lintas tanker raksasa, terdapat infrastruktur lain yang jauh lebih sunyi tetapi sangat menentukan masa depan dunia: kabel komunikasi bawah laut.


Di dasar laut Hormuz membentang jaringan kabel serat optik internasional yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Jalur ini menjadi tulang punggung komunikasi digital global. Tanpa kabel tersebut, transaksi keuangan internasional, layanan cloud computing, komunikasi pemerintahan, navigasi satelit, hingga aktivitas internet sehari-hari akan terganggu secara besar-besaran.


Dunia hari ini sesungguhnya lebih bergantung pada kabel bawah laut daripada yang dibayangkan banyak orang.


Lebih dari 95 persen lalu lintas data internasional dunia bergerak melalui kabel serat optik bawah laut, bukan satelit.¹ Artinya, ketika orang Indonesia membuka aplikasi perbankan, mengakses media sosial, melakukan rapat virtual, hingga transaksi perdagangan internasional, sebagian besar data tersebut sebenarnya sedang melintasi dasar samudra dunia.


Dan dua jalur laut paling sibuk yang menopang sistem itu adalah Hormuz dan Malaka.


Di kawasan Hormuz terdapat beberapa jaringan kabel utama dunia seperti sistem SEA-ME-WE (South East Asia-Middle East-Western Europe), Falcon, Europe India Gateway (EIG), serta AAE-1 (Asia-Africa-Europe 1).² Jalur-jalur ini menghubungkan pusat ekonomi Asia seperti Singapura, Hong Kong, dan Mumbai menuju pusat keuangan Eropa melalui Timur Tengah.


Keunggulan utama jalur Hormuz adalah efisiensi waktu transmisi data. Jalur ini memberikan latensi rendah bagi komunikasi digital antara Asia dan Eropa. Semakin pendek jalur kabel, semakin cepat data bergerak.


Karena itu kawasan Hormuz tidak hanya menjadi perebutan energi dunia, tetapi juga menjadi perebutan pengaruh digital global.


Masalahnya, Hormuz juga merupakan salah satu kawasan paling rawan konflik di dunia. Ketegangan Iran, Amerika Serikat, Israel, dan sekutu Barat menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap sabotase, perang laut, maupun serangan infrastruktur bawah laut.


Perang Iran tahun 2026 membuka mata dunia bahwa ancaman terhadap kabel bawah laut bukan lagi teori.


Ketika ketegangan militer meningkat di Hormuz, dunia tidak hanya khawatir harga minyak naik. Dunia juga mulai khawatir terhadap potensi lumpuhnya sistem komunikasi global. Sebab bila kabel bawah laut terganggu, dampaknya bisa menjalar ke seluruh sistem ekonomi digital dunia.


Bank internasional bisa terganggu. Bursa saham bisa melambat. Layanan cloud global dapat terputus. Bahkan sistem navigasi dan komunikasi pemerintahan antarnegara dapat mengalami gangguan serius.


Di sinilah Indonesia harus mulai berpikir strategis.


Karena di sisi lain dunia, Indonesia memiliki “Hormuz versi Asia Tenggara”, yaitu Selat Malaka.


Selat Malaka bukan hanya salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia, tetapi juga koridor komunikasi digital paling penting di kawasan Asia Tenggara. Selat ini menjadi penghubung utama pusat data Singapura dengan India, Timur Tengah, hingga Eropa.


Kabel-kabel besar dunia melintasi kawasan ini.


Sistem SEA-ME-WE 3, 4, 5, hingga proyek terbaru SeaMeWe-6 semuanya melewati jalur sekitar Malaka.³ Selain itu terdapat pula APG (Asia Pacific Gateway), ASE (Asia Submarine-cable Express), Indigo-West, hingga Matrix Cable System yang menghubungkan Jakarta, Batam, Singapura, dan jaringan internasional lainnya.


Artinya, Selat Malaka bukan lagi sekadar jalur kapal dagang. Ia telah berubah menjadi jalur hidup ekonomi digital Asia.


Bagi Indonesia, posisi ini sangat penting.


Sebagian besar trafik internet nasional Indonesia keluar melalui gerbang Singapura, Batam, dan kawasan Selat Malaka. Server global seperti Google, Meta, Microsoft Azure, Amazon Web Services (AWS), hingga sistem finansial internasional yang digunakan masyarakat Indonesia banyak bergantung pada konektivitas kabel yang melewati kawasan ini.


Karena itu jika terjadi gangguan kabel di Selat Malaka, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat Indonesia dalam hitungan menit.


Internet melambat.


Latensi meningkat.


Transaksi digital terganggu.


Pusat data mengalami tekanan.


Dan ekonomi digital nasional bisa ikut terguncang.


Masalahnya, Selat Malaka memiliki risiko yang sangat tinggi.


Wilayah ini relatif dangkal dan dipadati kapal tanker, kapal kontainer, serta aktivitas penangkapan ikan. Banyak kasus kerusakan kabel bawah laut terjadi akibat jangkar kapal atau alat tangkap pukat.⁴ Bahkan dalam konteks geopolitik modern, kabel bawah laut kini mulai dianggap sebagai target strategis dalam perang hybrid.


Dunia mulai menyadari bahwa perang masa depan tidak selalu dilakukan dengan rudal dan bom. Melumpuhkan kabel komunikasi bawah laut dapat memberikan dampak ekonomi dan psikologis yang jauh lebih besar tanpa perlu invasi militer terbuka.


Inilah sebabnya banyak negara besar kini membentuk satuan khusus perlindungan infrastruktur bawah laut.


Indonesia tidak boleh terlambat.


Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia justru berada di pusat lalu lintas komunikasi global. Jalur kabel internasional yang melintasi Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Jawa, hingga perairan Sulawesi akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dunia.


Karena itu perlindungan kabel bawah laut seharusnya sudah masuk kategori keamanan nasional strategis.


Kita selama ini terlalu fokus melihat laut hanya sebagai jalur perdagangan fisik. Padahal di bawah laut Nusantara terdapat “jalan tol digital dunia” yang menopang ekonomi internasional.


Indonesia sesungguhnya memiliki posisi sangat strategis.


Batam kini berkembang menjadi pusat data baru Asia Tenggara karena letaknya sangat dekat dengan jalur kabel internasional Selat Malaka.⁵ Kedekatan itu memberikan keuntungan besar dalam efisiensi konektivitas digital.


Bahkan ke depan, kawasan Kepulauan Riau dan pesisir timur Sumatera dapat berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi digital maritim terbesar di Asia bila dikelola dengan serius.


Namun ada syaratnya: keamanan.


Indonesia harus mulai membangun sistem perlindungan kabel bawah laut secara modern. Pengawasan laut tidak boleh lagi hanya fokus pada penyelundupan dan kapal ilegal, tetapi juga perlindungan infrastruktur digital bawah laut.


Ke depan, patroli laut berbasis drone, sensor bawah laut, AI maritim, hingga sistem pemetaan kabel nasional menjadi kebutuhan mendesak.


Kita harus belajar dari Hormuz.


Ketika konflik Iran memanas, dunia langsung menyadari betapa rapuhnya sistem komunikasi global jika satu jalur sempit terganggu. Hal yang sama sebenarnya berlaku bagi Selat Malaka.


Jika Malaka lumpuh, maka sebagian sistem komunikasi Asia Tenggara juga ikut terguncang.


Karena itu Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sekaligus sangat rentan.


Di satu sisi kita diuntungkan karena berada di pusat jaringan komunikasi dunia. Namun di sisi lain, kita juga menjadi titik rawan geopolitik global.


Apalagi rivalitas kekuatan besar dunia kini semakin bergeser ke kawasan Indo-Pasifik.


Perang modern tidak lagi sekadar perebutan wilayah daratan. Yang diperebutkan adalah data, jalur komunikasi, pusat data, kecerdasan buatan, dan kendali jaringan digital global.


Dan semua itu melewati laut.


Itulah sebabnya Selat Hormuz dan Selat Malaka sesungguhnya memiliki kesamaan besar. Keduanya bukan hanya jalur kapal, tetapi “urat saraf digital dunia”.


Hormuz menjaga aliran energi dan data antara Timur Tengah, Asia, dan Eropa.


Malaka menjaga aliran perdagangan dan komunikasi digital Asia Tenggara menuju dunia internasional.


Keduanya adalah chokepoint ekonomi dan komunikasi global.


Karena itu Indonesia harus mulai melihat laut dengan perspektif baru. Laut bukan hanya ruang geografis, tetapi ruang digital strategis. Infrastruktur bawah laut bukan lagi isu teknis telekomunikasi semata, melainkan bagian dari pertahanan nasional.


Sudah saatnya Indonesia membangun kebijakan nasional perlindungan kabel bawah laut secara serius. Termasuk memperkuat regulasi keamanan maritim digital, pengawasan titik pendaratan kabel (landing station), patroli infrastruktur bawah laut, hingga membangun pusat data nasional yang terhubung langsung dengan jaringan internasional secara aman.


Dunia sedang memasuki era baru: perang data dan perang jaringan.


Dan di era itu, siapa yang menguasai laut, kabel, dan data, maka dialah yang mengendalikan masa depan ekonomi dunia.


Indonesia berada tepat di tengah persimpangan itu.



Humas BNPP RI



Catatan Kaki


1. International Cable Protection Committee (ICPC), data global lalu lintas komunikasi internasional melalui kabel bawah laut, 2025–2026.


2. SEA-ME-WE Consortium; sistem kabel AAE-1, Falcon, dan Europe India Gateway di kawasan Timur Tengah dan Asia.


3. Selat Malaka sebagai jalur utama sistem kabel SEA-ME-WE, APG, ASE, dan SeaMeWe-6 menuju Singapura dan Asia Tenggara.


4. Data gangguan kabel bawah laut akibat jangkar kapal dan aktivitas penangkapan ikan di kawasan Asia Tenggara dan Selat Malaka.


5. Batam sebagai pusat pengembangan data center nasional dan regional karena kedekatan dengan jalur kabel internasional Singapura–Malaka.

Share

Kategori Berita

Berita BNPP

1201

PLBN

759

Berita Nasional

70

Berita Perbatasan

253

Pers Rilis

41

Berita Utama

725

Berita Terbaru

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/d18156f8-ba8f-45a8-b72e-683a3f393796.jpeg

Selat Hormuz dan Selat Malaka: Dua Selat, Satu Jaringan Saraf Komunikasi Dunia

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/613714b3-808f-4d15-9981-b4eadce24220.jpeg

Pasukan Nyamuk dan Pelajaran Besar bagi Laut Indonesia

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/f345565b-aa04-4179-b7b9-bdd09d213313.jpeg

Perkuat Integritas dan Tata Kelola, BNPP RI Gelar Bimtek Fraud Control Plan dan Fraud Risk Assessment

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/589db9c2-41a2-4f6c-a284-b98d1b955112.jpeg

BNPP RI Gelar Forum IPKP 2026 untuk Perkuat Pusat Pertumbuhan Kawasan Perbatasan Laut

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/9e2bb213-ef57-4876-ba36-55aa951fdf15.JPG

BNPP Bersoleg Jadi Forum Strategis Penguatan Tata Kelola Hukum Kawasan Perbatasan

Berita Terkait
Logo BNPP

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)

Location Icon

Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340

Phone Icon

021-31924491

Email Icon

info@bnpp.go.id

White Facebook Icon
White Twitter Icon
White Instagram Icon
White Tiktok Icon
White Youtube Icon

© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026