|
Berita
Berita BNPP
Singkawang, Magnet Wisata Lintas Batas bagi Wisatawan Malaysia
Dibuat Admin BNPP
01 Oct 2025, 13:51 WIB



Oleh: Drs Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI
Kota Singkawang di Kalimantan Barat kini semakin meneguhkan posisinya sebagai destinasi wisata lintas batas yang digemari wisatawan asal Malaysia. Letaknya yang strategis dan mudah dijangkau melalui tiga Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yakni Aruk di Kabupaten Sambas, Jagoi Babang di Bengkayang, serta Entikong di Sanggau, menjadikan Singkawang sebagai simpul penting bagi arus perdagangan, pertukaran budaya, sekaligus tujuan wisata yang penuh daya tarik.
Fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan Malaysia ke Singkawang dapat dipahami dalam kerangka pariwisata lintas batas (cross-border tourism). Faktor kedekatan geografis, kemiripan budaya, hingga biaya perjalanan yang relatif terjangkau membuat Singkawang menjadi pilihan utama.
Bagi Malaysia, Singkawang menjadi destinasi untuk mencari suasana baru yang masih serumpun, sementara bagi Indonesia, kunjungan ini membawa dampak positif bagi ekonomi sekaligus memperkuat ikatan sosial budaya dua negara bertetangga.
Kota Amoy dan Identitas Tionghoa-Hakka
Singkawang dikenal luas dengan julukan Kota Amoy, yang mencerminkan dominasi etnis Tionghoa khususnya komunitas Hakka atau Khek, dalam kehidupan sosial dan budaya kota.
Keberadaan komunitas ini menampilkan wajah multikultural yang khas, mulai dari tradisi, bahasa, hingga ragam kuliner. Bagi wisatawan Malaysia, terutama komunitas Tionghoa di Sarawak, Singkawang bukan sekadar destinasi, melainkan juga ruang untuk menelusuri jejak sejarah diaspora Tionghoa di Asia Tenggara.
Identitas budaya yang kuat ini sekaligus menjadi modal besar dalam pengembangan cultural heritage tourism, di mana wisatawan dapat merasakan langsung kekayaan tradisi lokal yang otentik dan hidup dalam keseharian masyarakat.
Alam Tropis yang Memikat
Selain kekayaan budaya, Singkawang juga menawarkan wisata alam yang menawan. Pantai Pasir Panjang, Pulau Datuk, hingga Bukit Poteng menjadi destinasi populer bagi turis Malaysia yang mencari suasana tropis dan relaksasi.
Karakter wisata berbasis alam ini sejalan dengan tren nature-based tourism, di mana wisatawan ingin menikmati suasana alami yang dekat secara geografis namun memberikan pengalaman berbeda dari negaranya.
Kedekatan geografis memengaruhi preferensi perjalanan. Seperti dicatat Hall, wisata lintas batas umumnya dipilih karena jarak yang singkat, biaya perjalanan yang relatif murah, serta adanya keterhubungan emosional dengan wilayah tujuan (78). Faktor-faktor inilah yang membuat Singkawang lebih diminati dibanding destinasi lain di Kalimantan Barat.
Festival Cap Go Meh: Warisan Budaya Dunia
Daya tarik Singkawang semakin lengkap dengan keberadaan Festival Cap Go Meh, yang telah dikenal hingga mancanegara. Parade Tatung dengan atraksi magis dan barongsai raksasa menjadi tontonan spektakuler yang tidak hanya memikat komunitas Tionghoa, tetapi juga masyarakat dari berbagai latar belakang.
Perayaan tahunan ini menjadi simbol keberagaman yang menyatu, sekaligus contoh nyata event tourism yang memperkuat posisi Singkawang di peta pariwisata internasional.
Bagi wisatawan Malaysia, terutama komunitas Tionghoa, Cap Go Meh adalah ajang rekoneksi budaya. Perayaan ini menjadi bentuk nyata dari event tourism, yaitu wisata yang dipicu oleh sebuah acara budaya tahunan yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain (Getz 45). Tidak berlebihan jika Cap Go Meh Singkawang kini dianggap sebagai salah satu festival Tionghoa terbesar di Asia Tenggara.
Harmoni Sosial dan Kota Seribu Klenteng
Singkawang juga dikenal sebagai Kota Seribu Klenteng, dengan keberadaan rumah ibadah berarsitektur indah yang berdiri berdampingan dengan masjid. Harmoni antarumat beragama yang terjaga di kota ini menjadi nilai tambah bagi wisatawan, khususnya dari Malaysia, yang sering kali terkesan dengan praktik toleransi hidup sehari-hari masyarakat Singkawang.
Fenomena ini mencerminkan daya tarik social harmony tourism, di mana wisatawan tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman sosial yang menumbuhkan inspirasi (Sutrisno). Turis Malaysia seringkali kagum melihat praktik kerukunan yang hidup dalam keseharian masyarakat Singkawang.
Kuliner dan Oleh-oleh yang Menggoda
Tak lengkap rasanya berkunjung ke Singkawang tanpa menikmati kuliner khasnya. Mulai dari choipan, kwetiau goreng, gulai asam pedas, hingga makanan unik seperti bunga teratai goreng menjadi daya tarik tersendiri. Kawasan Saliung bahkan kini populer sebagai pusat kuliner dan tempat berkumpul anak muda dengan sajian kopi khas Singkawang yang berbeda dari racikan Malaysia.
Sebagai buah tangan, wisatawan Malaysia kerap memborong Jeruk Tebas dan lempok durian khas Sambas dan Bengkayang. Produk kuliner berbasis durian ini menjadi favorit karena sesuai dengan selera masyarakat Malaysia yang memang lekat dengan buah berduri tersebut.
Wisata Sejarah dan Ikatan Emosional
Selain menjelajah Singkawang, turis Malaysia sering melanjutkan perjalanan ke Istana Kesultanan Sambas. Bagi mereka, kunjungan ini bukan hanya wisata sejarah, tetapi juga perjalanan emosional karena adanya ikatan historis dengan kerajaan-kerajaan Melayu di Malaysia. Dalam perspektif heritage tourism, istana ini menjadi simbol penting yang memperkuat solidaritas budaya lintas batas.
Perbatasan sebagai Jembatan Persaudaraan
Fenomena wisatawan Malaysia yang rutin berkunjung ke Singkawang menunjukkan bahwa pariwisata lintas batas bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan budaya dan emosional. Singkawang hadir sebagai ruang pertemuan antara alam tropis, tradisi Tionghoa-Hakka, kuliner khas, serta sejarah Melayu yang berpadu dalam harmoni sosial.
Bagi Malaysia, kedekatan geografis dan historis menjadikan Singkawang terasa seperti “rumah kedua”. Sementara bagi Indonesia, kehadiran turis lintas batas menjadi bukti bahwa perbatasan bukanlah pembatas, melainkan jembatan yang mempererat persaudaraan antarbangsa.
Dalam konteks inilah, Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) terus berkomitmen mengoptimalkan peran PLBN sebagai pintu gerbang interaksi sosial, ekonomi, dan budaya, sehingga kawasan perbatasan semakin hidup dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
(Humas BNPP RI)
Foto Sumber: Wikipedia
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

PLBN Skouw Gagalkan Upaya Pembawaan Amunisi oleh Pelintas Asal Papua Nugini

Program Kerja 2026 dan Akuntabilitas Anggaran Jadi Fokus BNPP RI dalam RDP Komisi II DPR RI

Arus Balik Lebaran 1447 H di PLBN Skouw Melandai, Posko Kesehatan Tetap Siaga hingga Akhir Maret

PLBN Jagoi Babang Terima Kunjungan Panglima Tentera Darat Malaysia, Perkuat Koordinasi Pengamanan Perbatasan

Wakil Menteri Digital Sarawak Kunjungi PLBN Long Nawang, Bahas Penguatan Konektivitas Perbatasan

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026