|
Berita
Berita BNPP
Bayang-Bayang Brimob dan KKO di Long Pasia: Kisah Heroik di Garis Batas yang Nyaris Terlupakan
Dibuat Admin BNPP
29 Oct 2025, 11:13 WIB

Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI
Perbatasan tidak hanya berbicara tentang garis di peta, melainkan juga kisah manusia, keberanian, dan pengabdian tanpa pamrih.
Di antara kabut pegunungan Krayan dan hutan belantara Long Pasia, tersimpan satu bab kecil sejarah yang nyaris terlupakan. Kisah dua prajurit Indonesia yang menolak menyerah dalam masa konfrontasi Indonesia–Malaysia di tahun 1960-an.
Pada tahun 1996, saat mengikuti short course di Salisbury, Inggris, penulis menemukan catatan mengejutkan di Army Flying Museum sebuah museum kecil di tengah Middle Wallop yang menyimpan kisah besar.
Di antara arsip militer Inggris, terdapat laporan singkat tentang kekalahan tragis pasukan Gurkha di Kalimantan. Disebutkan bahwa dua tawanan Indonesia, seorang anggota Brimob Polri dan seorang prajurit KKO Angkatan Laut (kini Korps Marinir) berhasil melarikan diri dan bahkan melumpuhkan penjaga mereka.
Catatan kecil itu menjadi pintu bagi penulis menelusuri kembali satu episode heroik dalam sejarah bangsa: kisah dua bayangan dari hutan Long Pasia.
Api Konfrontasi di Garis Batas
Awal dekade 1960-an menandai masa genting hubungan Indonesia dan Inggris, kala Presiden Soekarno menolak pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai bentuk baru kolonialisme. Melalui Dwi Komando Rakyat (Dwikora), Indonesia bertekad memperhebat ketahanan revolusi dan membantu perjuangan rakyat Kalimantan Utara.
Ribuan prajurit TNI dan Brimob ditempatkan di sepanjang garis depan dari Sebatik hingga Krayan. Di tengah hutan tropis yang pekat, perang senyap berlangsung dalam sunyi.
Tidak ada artileri besar, hanya pengintaian, penyergapan, dan infiltrasi. Di sinilah dua nama mencatat sejarah tanpa tepuk tangan: Kopral Marinir Arifin dan Briptu Suyono.
Misi yang Berubah Menjadi Legenda
Keduanya merupakan bagian dari regu pengintai yang bertugas memantau pergerakan pasukan Gurkha Inggris di sektor Long Pasia. Namun, takdir berkata lain. Regu kecil mereka terjebak penyergapan. Dalam pertempuran singkat namun sengit, beberapa rekan gugur dan Arifin bersama Suyono ditangkap hidup-hidup.
Mereka dibawa ke Sabah, ditahan di sebuah pos darurat di tengah hutan. Selama tiga malam mereka diinterogasi dan dipaksa mengaku, namun keduanya memilih bungkam menahan sakit, berpura-pura tak mengerti bahasa Inggris.
Pelarian yang Mengguncang Musuh
Malam keempat menjadi saksi keberanian luar biasa. Saat hujan mengguyur deras, Briptu Suyono menggunakan kawat kecil dari sabuknya untuk membuka borgol, sementara Arifin memanfaatkan pisau kecil yang disembunyikan di sepatu.
Dengan keberanian yang tak biasa, mereka melumpuhkan empat penjaga Gurkha, merebut senjata Lee-Enfield, lalu membakar gudang logistik musuh. Malam itu, dua anak bangsa menolak menyerah pada takdir.
Tiga Hari di Hutan Krayan
Dengan tubuh penuh luka dan tenaga nyaris habis, keduanya berjuang menembus hutan menuju selatan. Mereka hidup dari air hujan dan dedaunan, menghindari patroli udara dan anjing pelacak. Hingga akhirnya, di tepi Sungai Krayan, warga suku Tidung menemukan mereka dan membawa keduanya ke pos TNI di Long Bawan.
Saat memasuki pos dengan bendera Merah Putih berkibar, keduanya disambut sorak haru para prajurit. Dua orang yang dikira gugur ternyata kembali, membawa bukti kisah perjuangan yang tak ternilai.
Penghargaan Tanpa Nama, Keberanian yang Kekal
Dalam laporan resmi operasi sektor Nunukan, peristiwa ini hanya tercatat singkat:
“Dua personel Indonesia lolos dari tahanan musuh dan berhasil kembali dengan senjata hasil rampasan. Empat lawan tewas.”
Tidak ada liputan media, tidak ada penghargaan besar. Semua operasi Dwikora bersifat rahasia. Namun bagi rekan-rekan seperjuangan, nama Arifin dan Suyono menjadi legenda. Mereka dikenal sebagai “Dua Bayangan dari Long Pasia” simbol keberanian, kesetiaan, dan kecerdikan prajurit Indonesia.
Kini, jejak itu nyaris tertelan waktu. Long Pasia telah tenang. Perbatasan dijaga dengan pos modern, dan hubungan Indonesia–Malaysia bertransformasi menjadi kerja sama persahabatan. Namun di hati para veteran dan masyarakat perbatasan Krayan, kisah itu tetap hidup.
Jejak yang Tersisa
Di wilayah Krayan dan Long Bawan, sejumlah veteran lokal masih mengingat kisah tersebut. Seorang tokoh adat pernah berkata.
“Kami tahu siapa mereka. Mereka tidak banyak bicara, tapi dari luka dan cara mereka berjalan, kami tahu mereka baru kembali dari neraka.”
Jejak pertempuran di Long Pasia kini nyaris hilang ditelan waktu. Hutan kembali tenang, perbatasan dijaga dengan pos modern, dan hubungan Indonesia–Malaysia telah lama pulih. Namun kisah dua prajurit itu tetap menggetarkan hati.
Di rimba yang tak bertepi, dua anak bangsa membuktikan bahwa keberanian dan kecerdikan bisa menaklukkan rasa takut—bahkan kekuasaan senjata.
Warisan Keberanian di Perbatasan Modern
Kisah heroik dua prajurit ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin nilai juang yang tetap relevan bagi generasi penjaga perbatasan hari ini.
Di tengah tugas menjaga kedaulatan negara, semangat mereka menjadi teladan bagi para petugas di garis depan mulai dari TNI, Polri, hingga aparatur sipil negara di bawah koordinasi BNPP RI yang mengelola dan mengembangkan kawasan perbatasan.
Perbatasan bukan hanya tembok pemisah, tetapi jembatan penghubung dan simbol kehormatan bangsa. Seperti Arifin dan Suyono yang bertahan di tengah keterbatasan, semangat pengabdian itu kini hidup dalam upaya pemerintah memperkuat tata kelola wilayah perbatasan dengan menjadikannya kawasan yang aman, maju, dan berdaya saing.
Waktu mungkin telah menghapus jejak langkah mereka di tanah berlumpur Long Pasia, tetapi nilai perjuangan mereka tetap abadi.
Di tengah tantangan zaman dan dinamika geopolitik, kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa setiap jengkal batas negara dijaga bukan hanya oleh pasukan bersenjata, tetapi oleh jiwa-jiwa pemberani yang menjadikan merah putih lebih dari sekadar warna melainkan kehormatan yang dijaga dengan darah, kesetiaan, dan cinta tanah air.
(Humas BNPP RI)
Daftar Pustaka Singkat
Dinas Sejarah TNI AL. Catatan Operasi KKO di Kalimantan Utara 1964–1965. Arsip Internal, Jakarta, 1980.
Departemen Pertahanan RI. Operasi Dwikora di Kalimantan. Pusat Sejarah ABRI, 1975.
Wawancara dengan Veteran Dwikora Sektor Nunukan, Tarakan, 1998.
Tempo. “Dwikora di Borneo: Perang di Hutan Senyap.” Majalah Tempo, Edisi Khusus Sejarah, 2015.
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

PLBN Motaain Hadirkan Pasar Murah dan Samsat Keliling, Masyarakat Perbatasan Sambut Antusias

PLBN Skouw Gagalkan Upaya Pembawaan Amunisi oleh Pelintas Asal Papua Nugini

Program Kerja 2026 dan Akuntabilitas Anggaran Jadi Fokus BNPP RI dalam RDP Komisi II DPR RI

Arus Balik Lebaran 1447 H di PLBN Skouw Melandai, Posko Kesehatan Tetap Siaga hingga Akhir Maret

PLBN Jagoi Babang Terima Kunjungan Panglima Tentera Darat Malaysia, Perkuat Koordinasi Pengamanan Perbatasan

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026