|
Berita
Berita BNPP
Menjelajahi Serumpun Borneo: Wisata dan Kuliner Memikat dari Pontianak hingga Sarawak
Dibuat Admin BNPP
26 May 2026, 9:43 WIB



Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI
Pulau Borneo atau Kalimantan bukan sekadar hamparan hutan tropis terbesar di Asia Tenggara. Di pulau inilah hidup denyut budaya serumpun yang melintasi batas negara antara Indonesia dan Malaysia. Di sisi barat pulau ini berdiri Provinsi Kalimantan Barat dengan Pontianak sebagai jantung perdagangannya, sementara di utara terbentang Sarawak, Malaysia Timur, dengan Kuching sebagai kota warisan budaya dan wisata modernnya.
Hubungan masyarakat di kedua wilayah ini sesungguhnya bukan hubungan asing. Ia adalah hubungan budaya yang telah terjalin selama ratusan tahun melalui perdagangan sungai, jalur pesisir, migrasi masyarakat Dayak dan Melayu, hingga pertukaran kuliner yang terus hidup sampai hari ini. Jalur lintas batas seperti Entikong–Tebedu, Aruk–Biawak, dan Jagoi Babang–Serikin telah berkembang bukan hanya sebagai pintu imigrasi, tetapi juga sebagai koridor wisata dan ekonomi rakyat yang sangat aktif.[1]
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, Sarawak—terutama Kuching—telah lama menjadi destinasi favorit untuk berlibur, menikmati tata kota yang tertib, berburu kuliner, hingga berbelanja produk modern. Sebaliknya, bagi warga Sarawak, Pontianak menjadi magnet wisata belanja dan surga kuliner yang terkenal kaya rempah dan berani rasa. Fenomena ini menunjukkan bahwa kawasan perbatasan Borneo bukan sekadar ruang geopolitik, melainkan ruang budaya dan ekonomi yang hidup.
Kuching dan Wajah Modern Borneo
Kuching dikenal sebagai salah satu kota paling nyaman di Malaysia Timur. Kota ini memadukan modernitas dengan identitas budaya lokal yang masih sangat terasa. Tata kota yang bersih, lalu lintas yang relatif tertib, serta suasana kota yang tenang menjadikan Kuching sangat digemari wisatawan Indonesia.
Salah satu ikon wisata paling terkenal adalah Kuching Waterfront. Kawasan tepian Sungai Sarawak ini menjadi pusat aktivitas wisata malam. Di sepanjang waterfront, wisatawan dapat menikmati panorama sungai, melihat megahnya Gedung Dewan Undangan Negeri Sarawak, serta menyaksikan Jembatan Darul Hana yang menjadi simbol modernisasi kota Kuching.[2]
Saat malam tiba, pertunjukan air mancur menari (musical fountain) menjadi daya tarik utama. Cahaya warna-warni berpadu dengan musik modern dan tradisional menciptakan suasana yang hidup. Wisatawan juga dapat menyusuri Sungai Sarawak menggunakan perahu tradisional “tambang” yang masih dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Destinasi lain yang sangat populer ialah Borneo Cultures Museum. Museum modern terbesar kedua di Asia Tenggara ini menghadirkan konsep futuristik dengan teknologi interaktif yang memperlihatkan sejarah alam dan budaya masyarakat Borneo. Di dalamnya terdapat koleksi mengenai kehidupan suku Dayak, flora-fauna Kalimantan, hingga sejarah perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.[3]
Bagi pecinta budaya, Sarawak Cultural Village atau Kampung Budaya Sarawak menjadi destinasi wajib. Tempat ini dikenal sebagai living museum yang menampilkan replika rumah adat berbagai etnis di Sarawak seperti Iban, Bidayuh, Orang Ulu, dan Melanau. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional, musik sape, hingga demonstrasi memasak makanan adat dua kali sehari.[4]
Sementara itu, wisata alam terbaik di Sarawak dapat ditemukan di Bako National Park. Taman nasional tertua di Sarawak ini terkenal karena formasi batuan laut unik serta habitat bekantan atau monyet proboskis yang langka. Jalur trekking hutan tropis, pantai tersembunyi, dan tebing batu menjadikan kawasan ini sangat diminati wisatawan internasional.[5]
Kuliner Sarawak: Kaya Rempah dan Identitas Budaya
Tidak lengkap mengunjungi Sarawak tanpa menikmati kekayaan kulinernya. Salah satu makanan paling terkenal tentu adalah Laksa Sarawak. Bahkan almarhum Anthony Bourdain pernah menyebut Laksa Sarawak sebagai salah satu sarapan terbaik di dunia.[6]
Laksa Sarawak memiliki cita rasa berbeda dibanding laksa di wilayah lain. Kuahnya memadukan sambal belacan, santan, serai, bawang, dan asam gelugur sehingga menghasilkan rasa gurih yang lembut tetapi kaya aroma. Hidangan ini biasanya disajikan bersama bihun, udang, suwiran ayam, telur, dan daun ketumbar.
Kuliner lain yang sangat populer ialah Kolo Mee atau Mee Kolok. Mi telur tipis ini disajikan kering dengan minyak bawang putih dan irisan ayam atau sapi. Meski tampak sederhana, tekstur mi yang kenyal serta aroma bawang putih membuatnya menjadi menu favorit masyarakat Kuching.
Dari komunitas Dayak Iban hadir Manok Pansoh, yaitu ayam berbumbu yang dimasak di dalam bambu menggunakan bara api. Teknik memasak tradisional ini menghasilkan aroma bambu dan rempah yang sangat khas serta menjadi simbol kuliner pedalaman Borneo.[7]
Sebagai buah tangan utama, wisatawan hampir selalu membawa pulang Kek Lapis Sarawak. Kue berlapis warna-warni ini terkenal karena motif geometrisnya yang artistik dan rasa manis yang lembut. Kek lapis kini telah menjadi identitas kuliner modern Sarawak dan industri rumahan yang berkembang pesat.
Pontianak dan Pesona Kota Khatulistiwa
Di sisi Indonesia, Pontianak memiliki karakter yang berbeda. Kota ini lebih dinamis, ramai, dan dikenal sebagai pusat perdagangan terbesar di Kalimantan Barat. Pontianak tumbuh dari peradaban sungai di tepian Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.
Ikon utama kota ini tentu adalah Tugu Khatulistiwa. Monumen ini menandai garis nol derajat lintang bumi dan menjadi simbol geografis yang sangat unik. Setiap Maret dan September, ribuan wisatawan datang menyaksikan fenomena kulminasi matahari ketika bayangan benda tegak menghilang karena posisi matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa.[8]
Di pusat kota terdapat Taman Alun Kapuas yang menjadi pusat aktivitas masyarakat pada sore dan malam hari. Kawasan tepian Sungai Kapuas ini dipenuhi pedagang makanan, kapal wisata sungai, dan tempat bersantai keluarga. Dari lokasi ini wisatawan dapat melihat kehidupan sungai yang masih menjadi denyut ekonomi masyarakat Pontianak.
Pontianak juga memiliki Rumah Radakng, replika rumah panjang adat Dayak Kanayatn sepanjang 138 meter yang menjadi simbol budaya Dayak Kalimantan Barat. Tempat ini sering digunakan untuk kegiatan budaya besar seperti Festival Gawai Dayak yang rutin menarik wisatawan dari Indonesia maupun Malaysia.[9]
Selain wisata budaya, Pontianak terkenal sebagai kota belanja masyarakat Sarawak. Kawasan pasar rakyat dan pusat perdagangan lokal menjadi tujuan favorit warga Malaysia untuk membeli kain songket, busana muslim, perlengkapan rumah tangga, hingga produk makanan khas dengan harga yang relatif lebih murah.
Surga Kuliner Pontianak
Jika Kuching terkenal dengan rasa yang lembut, maka Pontianak dikenal dengan kekuatan rempah dan aroma masakannya.
Salah satu hidangan paling legendaris ialah Kwetiau Goreng Pontianak atau Mie Tiaw. Dimasak menggunakan wajan besar di atas api arang panas, aroma wok hei menjadi ciri khas utama. Perpaduan kecap asin, bawang putih, seafood, dan tekstur mi yang kenyal membuat makanan ini sangat populer.[10]
Kuliner lain yang sangat terkenal adalah Choipan atau Chai Kwe. Camilan khas Tionghoa Pontianak ini memiliki kulit tipis dari tepung beras dengan isian bengkuang, talas, atau kucai. Disajikan bersama minyak bawang putih dan sambal cair pedas-asam, choipan menjadi simbol perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu di Pontianak.
Dari wilayah Sambas hadir Bubur Pedas. Makanan khas Melayu ini dibuat dari beras sangrai yang dimasak bersama berbagai rempah dan sayuran kampung seperti pakis, kangkung, daun kesum, serta ditaburi ikan teri dan kacang goreng. Meski bernama “pedas”, rasa rempahnya justru lebih dominan dibanding cabai.[11]
Budaya ngopi di Pontianak juga memiliki karakter tersendiri. Kopi robusta lokal disaring menggunakan kain panjang tradisional sehingga menghasilkan rasa yang kuat dan pekat. Minuman ini biasanya ditemani pisang goreng renyah dengan olesan srikaya manis legit yang menjadi favorit masyarakat lokal.
Perbatasan sebagai Jembatan Wisata Serumpun
Hubungan wisata antara Kalimantan Barat dan Sarawak sesungguhnya memperlihatkan bagaimana perbatasan dapat menjadi ruang persahabatan antarbangsa. Jalur lintas batas modern seperti PLBN Entikong–Tebedu dan Aruk–Biawak telah mempercepat arus wisatawan, perdagangan rakyat, dan pertukaran budaya.[12]
Fenomena masyarakat Indonesia berwisata ke Kuching dan warga Sarawak berbelanja serta berburu kuliner di Pontianak menunjukkan bahwa kawasan perbatasan Borneo memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Wisata lintas batas tidak hanya menghidupkan hotel dan restoran, tetapi juga menggerakkan UMKM, transportasi rakyat, hingga industri kreatif lokal.
Pada akhirnya, perjalanan dari Pontianak menuju Kuching bukan sekadar perjalanan antarnegara. Ia adalah perjalanan menelusuri akar budaya Borneo yang sama: hangat, ramah, kaya rasa, dan penuh cerita. Di wilayah inilah kita melihat bahwa batas negara bukan hanya garis pemisah, tetapi juga jembatan yang menyatukan masyarakat serumpun dalam budaya, wisata, dan kuliner yang memikat.
Humas BNPP RI
Catatan Kaki
1. Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia, Laporan Pengelolaan PLBN dan Aktivitas Lintas Batas Kalimantan Barat, Jakarta: BNPP RI, 2025.
2. Sarawak Tourism Board, Kuching Waterfront Tourism Guide, Kuching, 2025.
3. Borneo Cultures Museum Official Publication, Exploring Borneo Heritage, Kuching: Sarawak Museum Department, 2024.
4. Sarawak Cultural Village, Living Museum of Borneo, Kuching, 2025.
5. Sarawak Forestry Corporation, Bako National Park Visitor Information, Kuching, 2025.
6. Anthony Bourdain, Parts Unknown: Borneo Culinary Journey, CNN Travel Archive, 2017.
7. James Ritchie, The Dayak and Their Traditional Food Heritage, Kuching: Borneo Literature Bureau, 2019.
8. Pemerintah Kota Pontianak, Festival Kulminasi dan Wisata Khatulistiwa, Pontianak, 2025.
9. Dinas Pariwisata Kalimantan Barat, Rumah Radakng dan Festival Budaya Dayak, Pontianak, 2025.
10. M. Syahril, Kuliner Legendaris Pontianak, Pontianak: Borneo Food Heritage Press, 2023.
11. Rahmawati Usman, Kuliner Melayu Sambas dan Tradisi Rempah Kalimantan Barat, Sambas Cultural Journal, Vol. 5, 2024.
12. BNPP RI, Perkembangan Wisata dan Perdagangan Lintas Batas Indonesia–Malaysia, Jakarta, 2025.
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

Belajar dari Frontex: Model Kerja Sama Penanganan Perbatasan Negara di Mediterania dan Balkan

Di Antara Kedaulatan dan Ketergantungan: Membaca Ulang Perbatasan Darat, Laut, dan Udara Indonesia–Singapura

Menjelajahi Serumpun Borneo: Wisata dan Kuliner Memikat dari Pontianak hingga Sarawak

DWP PLBN Motamasin Gandeng PDGI NTT, Gelar Bakti Sosial Kesehatan Gigi Anak Perbatasan

Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026