Logo BNPP
Badan Nasional Pengelola PerbatasanRepublik Indonesia (BNPP RI)
Beranda

|

Berita

Berita BNPP

Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara

Dibuat Admin BNPP

25 May 2026, 15:22 WIB

Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara
Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara
Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara
Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara
Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara

Oleh: Reynold Uran, SSTP.,M.Sc, C.Me - Kepala PLBN Wini


Pentakosta dan Tatama Maus, ritual dan tradisi di perbatasan


Minggu sore, 24 Mei 2026, matahari di Wini tidak sekadar terbenam; ia seperti sedang membasuh cakrawala dengan warna emas kemerahan yang tumpah ke bumi. Di kawasan perbatasan RI-RDTL ini, angin membawa aroma tanah yang kering, namun tidak dengan hati orang-orang di sini yang justru sedang basah oleh rasa syukur kepada pencipta. Hari ini, Gereja Paroki St. Fransiskus Xaverius menjadi saksi bisu sebuah pertemuan agung: antara perayaan Pentakosta Gereja Katolik dengan pelaksanaan tradisi masyarakat Wini: Tatama Maus, ketika iman yang menjulang ke langit berpadu tradisi yang berakar dalam ke tanah.Mengenakan balutan kain adat yang bersahaja dengan motif yang beragam sesuai asal suku dipadukan dengan atasan merah yang menyala selaras dengan warna liturgi perayaan Pentakosta, umat telah berkumpul sejak pukul 15.00 WITA di sepanjang jalan Miguel Lopez, jalan yang sama menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini dan Distrik Oekusi Timor Leste. 


Secara sosiologis, pemandangan ini adalah representasi dari solidaritas organik. Mereka berkumpul berdasarkan lingkungan, mengikat tali persaudaraan yang tak lekang oleh garis negara. Di tangan mereka dan kepala mereka, tak ada pita rambut dan bando mahal atau gawai canggih, tetapi hanya hasil bumi: padi, jagung, labu, pepaya, pinang, ikan kering, ubi kayu, hingga kacang tanah. Inilah Tradisi Tatama Maus, Neo Uis Neno. Sebuah persembahan hasil bumi tahunan dari petani dan nelayan kepada pemberi hidup dan yang menyatu dalam detak Pentakosta, peringatan turunnya Roh Kudus kepada para murid Yesus Kristus yang kemudian membentuk gereja Katolik. Jika kita melihatnya dengan kacamata antropologi, ini adalah praktik timbal-balik (reciprocity) antara manusia dan Sang Pencipta. Hasil bumi dan laut bukan sekadar komoditas; ia adalah keringat, doa, dan napas kehidupan yang dikembalikan kepada Pemilik Semesta. 


Sosiolog pedesaan James Scott mungkin akan menyebut tradisi ini dan tradisi persembahan serupa yang hampir ada disemua peradaban sebagai bentuk moral economy of the peasant. Bagi masyarakat Wini dan mungkin sebagian besar masyarakat Rural, mereka tidak sekadar bertani untuk pasar/ekonomi, melainkan untuk menjaga keberlangsungan komunitas. Bagi mereka, hasil bumi bukan komoditas dingin, melainkan "modal sosial" yang sakral, sebagaimana ditegaskan Pierre Bourdieu bahwa modal tidak selalu berbentuk uang, melainkan juga modal simbolik yang diperoleh melalui partisipasi dalam ritus budaya.


Rombongan masyarakat berbaris rapi, membawa semua hasil bumi dan laut berjalan, berarak menuju gereja diiringi suara gong dan gendang yang ditabuh ibu-ibu dengan penuh semangat bersahutan dengan gemerincing giring-giring yang terpasang di kaki para pemuda yang menari, begitu merdu dan syahdu, menciptakan irama kehidupan yang magis. Saat rombongan masyarakat tiba di gereja, tetua adat menyampaikan tutur adat, menyerahkan hasil bumi kepada Pastor Paroki sebagai perwakilan sang pencipta. Dalam momen ini, saya melihat kedaulatan yang sesungguhnya. Dalam perspektif pengelolaan perbatasan hal ini bukan sekedar pengelolaan tanah dalam ruang batas wilayah negara, melampauinya ini tentang bagaimana manusia di perbatasan memuliakan tanah tempat mereka berdiri.


Melihat antrean umat dengan hasil bumi di tangan, saya teringat pemikiran Marcel Mauss, seorang antropolog klasik, dalam teorinya tentang The Gift. Mauss berpendapat bahwa dalam masyarakat tradisional, pemberian bukanlah transaksi ekonomi semata, melainkan mekanisme untuk menciptakan ikatan sosial yang tak terputuskan. Ini menjadi alasan mengapa di desa dan perbatasan, tamu selalu diterima dengan ramah, penuh kekeluargaan sekalipun mereka sering memberi dari kekurangan, sebuah hospitality tingkat tinggi. Di Wini, Tatama Maus adalah wujud nyata dari total social phenomenon; sebuah ritus yang sekaligus menjadi pernyataan iman, pengikat solidaritas komunitas, dan pengakuan atas ketergantungan manusia pada alam.


Tatama Maus di tengah Kepungan El Niño


Namun keindahan ritual ini terancam tidak akan bisa dilaksanakan di tahun depan, Wini dan sebagian besar wilayah di Indonesia sedang menatap tantangan klimatik besar. El Niño 2026 diprediksi membawa musim kering yang panjang dan ekstrem. Sebagai ASN yang bertugas di pos perbatasan, saya melihat ada dua pendekatan yang mungkin bisa menjadi solusi napas panjang bagi warga Wini dan warga perbatasan lain dalam menghadapi El Nino:


1. Border Tourism: Merayakan Kearifan yang Menjual


Wini harus mampu bertransformasi dari kawasan perbatasan yang kental dengan pendekatan keamanan dan pertahanan menjadi kawasan wisata yang menjadi pusat cultural tourism yang otentik di kawasan perbatasan dengan multi pendekatan, salah satunya tentu prosperity. Daya tarik utama pariwisata perbatasan adalah authenticity (keaslian), pariwisata di kawasan perbatasan tidak boleh menjadi komodifikasi budaya yang dangkal, melainkan harus berbasis pada community-based tourism yang menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Konsep tourism mengamanatkan tiga A yang harus dimiliki sebuah destinasi wisata, yakni Akses: infsratruktur, telekomunikasi, keamanan, Amenitis: penginapan dan restoran serta Atraksi : objek wisata bisa berupa alam, buatan maupun atraksi budaya. Wini sekiranya telah memenuhi ketiga syarat ini.


Pemerintah harus bisa mengemas Tatama Maus sebagai atraksi pariwisata berbasis komunitas, melalui prinsip "interpretasi budaya," di mana pengunjung tidak saja hanya menonton tetapi diajak memahami filosofi di balik persembahan dan bukan sekadar memotret kebersahajaan masyarakat desa. Jika dunia luar bisa melihat bagaimana masyarakat perbatasan Wini menjaga harmoni dengan alam melalui berbagai ritual termasuk ritual Tatama Maus dan dilengkapi landscape alam yang eksotis berupa perpaduan pantai dan perbukitan batu, maka kemungkinan Wini akan dikenal bukan karena keterbatasannya, tapi karena kekayaan modal social dan kecantikan alamnya. Ini akan membuka akses ekonomi baru bagi warga melalui bisnis homestay, food and beverage dan kerajinan lokal tanpa harus merusak struktur desa. 


2. Ketahanan Pangan: Menghidupkan Kembali "Lumbung Masa Depan"


El Niño mengancam panen masyarakat dan apabila ini terjadi tradisi Tatama Maus berpotensi tidak bisa dilakukan pada perayaan Pentakosta tahun depan dan dapat menggerus nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat salah satunya terkait relasi umat dan pemberi hidup. Dalam tataran praktis masyarakat di kawasan perbatasan yang relatif miskin tidak bisa selalu bergantung pada pasokan logistik dari luar yang mahal dan rentan guncangan. Menghadapi ancaman gagal panen akibat El Niño, kita harus merujuk pada pemikiran ekonom Amartya Sen, yang menekankan bahwa kemiskinan sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya uang, melainkan kurangnya akses terhadap infrastruktur dasar serta pemikiran World Bank dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang menyatakan bahwa produktivitas pertanian modern dipengaruhi oleh infrastruktur pertanian yang memadai seperti irigasi, jalan usaha tani, fasilitas dan penyimpanan, jaringan listrik dan teknologi bahkan mendorong industri pengolahan pasca panen.


Pemerintah bisa mengadopsi Small-Scale Resilient Infrastructure (SSRI). Sesuai semangat Tatama Maus, pemerintah dapat membangun untuk masyarakat, infrastruktur skala mikro, seperti embung desa dan sistem irigasi hemat air serta lumbung pangan lokal yang modern namun berbasis kolektivitas desa/ yang dikelola secara kolektif oleh warga. Jika setiap lingkungan memiliki cadangan pangan yang dikelola secara kolektif (seperti saat umat membawa hasil bumi ke gereja), maka kekeringan ekstrem bukanlah momok yang mematikan. Pendekatan ini sejalan dengan Resource Orchestration Theory dari Sirmon et al., yang menyatakan bahwa efisiensi di tengah keterbatasan anggaran hanya bisa dicapai jika pemerintah/manajer mampu mengorkestrasi sumber daya yang tersedia—dalam hal ini, mengintegrasikan modal sosial warga dengan bantuan teknis dari pusat.


Penutup


Akhirnya dari tradisi Tatama Maus di Wini, kita dapat belajar bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari patok batas yang kokoh dan kuat atau pos lintas batas negara yang indah dan megah, tetapi juga dari ketangguhan perut rakyatnya dan kemurnian jiwanya dalam merawat tradisi. Ketika doa-doa diucapkan dalam Misa Pentakosta sore itu, saya percaya, selama jagung, padi, dan kacang tanah masih dipersembahkan dengan tulus, Wini akan tetap tegak berdiri.

Sebab, di perbatasan, mencintai tanah adalah cara paling puitis untuk mencintai Indonesia.



Humas BNPP RI

Referensi : 


1. Ansell, C., & Gash, A. (2007). Collaborative Governance in Theory and Practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.

2. Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. Dalam J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (hlm. 241–258). Greenwood.

3. Dietz, T., Ostrom, E., & Stern, P. C. (2003). The Struggle to Govern the Commons. Science, 302(5652), 1907–1912.

4. Hooghe, L., & Marks, G. (2001). Multi-Level Governance and European Integration. Rowman & Littlefield.

5. Krugman, P. (1991). Increasing Returns and Economic Geography. Journal of Political Economy, 99(3), 483–499.

6. Mauss, M. (1950/1990). The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaic Societies. W.W. Norton & Company.

7. Piketty, T. (2014). Capital in the Twenty-First Century. Harvard University Press.

8. Scott, J. C. (1976). The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia. Yale University Press.

9. Sen, A. (1999). Development as Freedom. Oxford University Press.

• Sirmon, D. G., Hitt, M. A., Ireland, R. D., & Gilbert, B. A. (2011). Resource Orchestration to Create Competitive Advantage: Breadth, Depth, and Life Cycle Effects. Journal of Management, 37(5), 1390–1412

Share

Kategori Berita

Berita BNPP

1219

PLBN

765

Berita Nasional

70

Berita Perbatasan

253

Pers Rilis

41

Berita Utama

725

Berita Terbaru

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/b5bcb515-3034-4b57-8c88-886ca4899a10.jpeg

DWP PLBN Motamasin Gandeng PDGI NTT, Gelar Bakti Sosial Kesehatan Gigi Anak Perbatasan

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/26a2db7e-f36a-45c1-8460-4b389a5865b7.jpeg

Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/74fdc952-b926-4532-b6c1-e1929d8b7603.jpeg

Oman, Pakistan, dan Pertaruhan Besar di Selat Hormuz, Ketika Diplomasi Senyap Menjadi Penentu Stabilitas Dunia

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/d9aeceda-a127-4995-b65d-25f88caf1a3f.jpeg

BNPP RI Ukur IPKP PPKP Entikong, Petakan Capaian dan Tantangan Pembangunan Perbatasan

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/27f825bc-6b65-4cec-a47a-a5c60e4d7ae4.jpeg

BNPP RI Petakan Tantangan Perbatasan Nangabadau Lewat Pemutakhiran IPKP

Berita Terkait
Logo BNPP

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)

Location Icon

Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340

Phone Icon

021-31924491

Email Icon

info@bnpp.go.id

White Facebook Icon
White Twitter Icon
White Instagram Icon
White Tiktok Icon
White Youtube Icon

© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026