Logo BNPP
Badan Nasional Pengelola PerbatasanRepublik Indonesia (BNPP RI)
Beranda

|

Berita

Berita BNPP

Belajar dari Frontex: Model Kerja Sama Penanganan Perbatasan Negara di Mediterania dan Balkan

Dibuat Admin BNPP

26 May 2026, 10:15 WIB

Belajar dari Frontex: Model Kerja Sama Penanganan Perbatasan Negara di Mediterania dan Balkan
Belajar dari Frontex: Model Kerja Sama Penanganan Perbatasan Negara di Mediterania dan Balkan
Belajar dari Frontex: Model Kerja Sama Penanganan Perbatasan Negara di Mediterania dan Balkan

Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI


Di tengah meningkatnya ancaman migrasi ilegal, perdagangan manusia, penyelundupan narkotika, terorisme lintas negara, hingga kejahatan siber transnasional, pengelolaan perbatasan modern tidak lagi dapat dilakukan secara parsial oleh satu institusi atau satu negara semata. Dunia telah memasuki era di mana keamanan perbatasan menjadi bagian dari sistem pertahanan ekonomi, politik, dan keamanan nasional yang saling terhubung. Dalam konteks inilah, Eropa membangun salah satu model tata kelola perbatasan paling maju dan kompleks di dunia melalui Frontex.


Frontex bukan sekadar lembaga penjaga perbatasan biasa. Badan ini telah berkembang menjadi pusat koordinasi keamanan lintas negara Uni Eropa yang mengintegrasikan kepolisian, imigrasi, bea cukai, intelijen, pengawasan laut, pengawasan udara, hingga dukungan militer dalam satu kerangka yang disebut Integrated Border Management (IBM). Sistem ini menjadi penting karena kawasan Eropa menghadapi tekanan migrasi terbesar dunia, terutama melalui jalur Laut Mediterania dan koridor Balkan Barat.


Bagi Indonesia, pengalaman Frontex menjadi sangat relevan untuk dipelajari. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan kilometer garis pantai, puluhan Pos Lintas Batas Negara (PLBN), serta jalur laut strategis internasional seperti Selat Malaka, Laut Sulawesi, dan Laut Arafura, Indonesia menghadapi ancaman lintas batas yang semakin kompleks. Perdagangan orang, penyelundupan narkoba, illegal fishing, infiltrasi jaringan kriminal, hingga migrasi ilegal adalah ancaman nyata yang memerlukan sistem koordinasi modern lintas lembaga dan lintas negara.


Model kerja sama Frontex menunjukkan bahwa keamanan perbatasan modern bukan hanya soal pagar, pos jaga, atau patroli bersenjata. Ia telah berubah menjadi sistem keamanan nasional berbasis teknologi, data intelijen, interoperabilitas informasi, dan koordinasi internasional secara real-time.


Dalam praktiknya, Frontex bekerja sebagai super-coordinator yang menyatukan otoritas berbagai negara anggota Uni Eropa tanpa menghilangkan kedaulatan masing-masing negara. Polisi perbatasan nasional tetap berada di bawah otoritas negaranya sendiri, namun seluruh operasi, standar pemeriksaan, pertukaran data, hingga pengendalian risiko dilakukan secara terintegrasi melalui sistem regional Uni Eropa.


Salah satu pilar penting Frontex adalah pembentukan European Border and Coast Guard Standing Corps, yaitu korps penjaga perbatasan berseragam pertama di tingkat Uni Eropa. Personel ini berasal dari berbagai negara anggota dan dapat dideploy ke titik-titik kritis perbatasan seperti Yunani, Italia, Spanyol, maupun kawasan Balkan. Mereka bekerja di bawah kendali negara tuan rumah, tetapi menggunakan standar operasional bersama yang telah disepakati Uni Eropa.


Di kawasan Laut Mediterania, Frontex menghadapi tantangan terbesar berupa migrasi laut ilegal, penyelundupan manusia, dan operasi penyelamatan di laut (Search and Rescue/SAR). Jalur Mediterania selama bertahun-tahun menjadi salah satu rute migrasi paling berbahaya di dunia. Ribuan migran dari Afrika Utara dan Timur Tengah mencoba masuk ke Eropa menggunakan kapal kecil melalui Libya, Tunisia, maupun Turki menuju Italia dan Yunani.


Untuk menghadapi situasi tersebut, Frontex membangun sistem pengawasan laut berlapis menggunakan drone, radar maritim, satelit, pesawat patroli udara, serta pusat koordinasi nasional yang saling terhubung melalui sistem EUROSUR. Sistem ini memungkinkan seluruh negara anggota melihat situasi perbatasan secara real-time. Jika ada kapal mencurigakan terdeteksi di laut, maka informasi langsung diteruskan ke pusat koordinasi nasional di Italia, Yunani, Malta, maupun Spanyol hanya dalam hitungan detik.


Frontex juga mengembangkan konsep Hotspots Approach di pulau-pulau strategis seperti Lampedusa dan Lesbos. Di lokasi ini, seluruh unsur penanganan perbatasan bekerja secara terpadu. Polisi perbatasan melakukan pemeriksaan identitas, petugas imigrasi memproses status migran, badan intelijen memeriksa kemungkinan keterkaitan dengan jaringan kriminal, sementara Europol melakukan analisis terhadap sindikat penyelundupan manusia.


Yang menarik, sistem CIQ di Eropa tidak berjalan terpisah seperti model birokrasi klasik di banyak negara berkembang. Konsep Integrated Border Management membuat fungsi imigrasi, bea cukai, karantina, intelijen, dan kepolisian berada dalam satu ekosistem data yang saling terhubung. Pemeriksaan barang, kendaraan, dan dokumen dapat dilakukan secara simultan melalui One Stop Border Posts berbasis digital.


Di sinilah teknologi menjadi tulang punggung utama. Petugas lapangan Frontex memiliki akses langsung terhadap berbagai database besar Uni Eropa seperti Schengen Information System (SIS), Visa Information System (VIS), dan Eurodac yang menyimpan data sidik jari pencari suaka. Dengan sistem ini, seorang migran ilegal atau pelaku kriminal yang pernah tercatat di satu negara dapat langsung dikenali ketika memasuki negara lain.


Selain pengawasan laut, Frontex juga sangat aktif di kawasan Balkan Barat. Berbeda dengan Mediterania yang berbasis maritim, Balkan didominasi jalur darat berupa hutan, sungai, dan pegunungan yang sulit diawasi. Kawasan ini menjadi jalur utama migrasi ilegal menuju Eropa Tengah melalui negara-negara seperti Serbia, Bosnia dan Herzegovina, Albania, Montenegro, serta Makedonia Utara.


Keunikan Balkan adalah sebagian besar negara di kawasan tersebut bukan anggota Uni Eropa. Namun Frontex berhasil membangun kerja sama lintas batas melalui Status Agreement, yaitu perjanjian yang memungkinkan personel Frontex beroperasi langsung di wilayah negara non-Uni Eropa. Ini merupakan bentuk kerja sama keamanan lintas negara yang sangat maju.


Melalui sistem ini, personel Frontex dapat melakukan patroli bersama, operasi pemeriksaan, hingga razia lintas batas bersama aparat lokal. Mereka juga membangun National Coordination Centres (NCC) di negara-negara Balkan agar sistem pengawasan dan pertukaran informasi dapat berjalan menggunakan standar yang sama dengan Uni Eropa.


Peran Border Liaison Officers (BLO) juga menjadi elemen penting dalam model Frontex. Para BLO ditempatkan di ibu kota negara anggota maupun negara transit strategis. Fungsi mereka bukan sekadar diplomat keamanan, tetapi juga penghubung intelijen, fasilitator pertukaran informasi dini, serta koordinator operasi pemulangan migran ilegal.


Dalam praktik modern, BLO telah berubah menjadi simpul koordinasi strategis antarnegara. Mereka membantu mempercepat respons terhadap ancaman lintas batas, memfasilitasi pertukaran data, hingga menghubungkan operasi lapangan antara negara asal, negara transit, dan negara tujuan.


Menariknya, meskipun Uni Eropa menempatkan penegakan hukum sipil sebagai garda utama, militer tetap memiliki peran penting dalam sistem Frontex. Di Mediterania, Angkatan Laut dan Angkatan Udara berbagai negara digunakan untuk pengawasan laut jarak jauh, patroli udara, hingga dukungan radar dan drone. Operasi seperti EUNAVFOR MED IRINI menunjukkan bagaimana operasi militer dapat mendukung penegakan hukum sipil tanpa mengambil alih fungsi kepolisian.


Sementara di Balkan, keterlibatan militer lebih bersifat defensif dan domestik, seperti membantu pengamanan green borders atau jalur hutan perbatasan yang rawan digunakan migran ilegal dan jaringan kriminal. Koordinasi dilakukan melalui pusat operasi nasional agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan antara militer dan aparat sipil.


Model Frontex sesungguhnya menunjukkan satu hal penting: pengelolaan perbatasan modern harus dibangun melalui sistem pertahanan berlapis (layered defense system). Ancaman tidak ditunggu masuk ke dalam wilayah inti negara, melainkan dideteksi sejak dari wilayah pra-perbatasan melalui kerja sama intelijen, pengawasan teknologi, dan diplomasi keamanan.


Indonesia sebenarnya memiliki tantangan yang tidak kalah kompleks dibanding Eropa. Jalur laut Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, Australia, Singapura, Vietnam, Thailand, dan India. Jalur penyelundupan manusia, narkoba, hingga illegal fishing terus berkembang mengikuti dinamika geopolitik dan ekonomi kawasan.


Karena itu, Indonesia perlu mulai membangun sistem koordinasi perbatasan yang lebih modern dan terintegrasi. Penguatan PLBN saja tidak cukup jika tidak dibarengi interoperabilitas data antarinstansi, penguatan BLO regional, sistem command center nasional, patroli gabungan lintas negara, serta integrasi teknologi pengawasan laut dan darat.


BNPP, Imigrasi, Bea Cukai, TNI, Polri, Bakamla, KKP, hingga pemerintah daerah perlu ditempatkan dalam satu ekosistem koordinasi berbasis Integrated Border Management. Indonesia juga perlu memperkuat mekanisme berbagi informasi dengan negara tetangga secara real-time, terutama di kawasan rawan seperti Laut Sulawesi, Selat Malaka, dan perbatasan Papua.


Pelajaran terbesar dari Frontex adalah bahwa perbatasan bukan lagi halaman belakang negara. Ia telah berubah menjadi garis depan pertahanan ekonomi, keamanan, dan kedaulatan nasional. Negara yang gagal membangun sistem perbatasan modern akan menghadapi ancaman serius berupa infiltrasi kriminal transnasional, perdagangan manusia, hingga gangguan stabilitas nasional.


Di era geopolitik yang semakin tidak menentu, Indonesia tidak cukup hanya menjaga patok batas. Indonesia harus mulai membangun ekosistem keamanan perbatasan modern yang terintegrasi, adaptif, dan berbasis teknologi. Dunia telah berubah. Ancaman lintas batas juga berubah. Maka cara menjaga perbatasan pun harus ikut berubah.



Humas BNPP RI

Catatan Kaki


1. Frontex, European Integrated Border Management Strategy, Brussels: European Union, 2023.

2. European Commission, Schengen Borders Code Handbook, Brussels, 2024.

3. EUROSUR, Situational Awareness and Information Exchange Framework, European Union Agency Reports, 2025.

4. Europol, Migrant Smuggling Networks in Europe, Hague, 2024.

5. European Union, Integrated Border Management Concept Paper, Brussels, 2023.

6. EUNAVFOR MED IRINI, Operational Mandate and Maritime Security Report, Rome, 2025.

7. Frontex Risk Analysis Unit, Western Balkans Risk Analysis Network (WB-RAN) Annual Report, Warsaw, 2025.

8. European Commission Directorate-General for Migration and Home Affairs, Hotspot Approach to Managing Migration, Brussels, 2024.

9. Council of the European Union, Status Agreements with Western Balkan States, Brussels, 2025.

10. International Organization for Migration (IOM), Mediterranean Migration Trends Report, Geneva, 2025.

Share

Kategori Berita

Berita BNPP

1222

PLBN

765

Berita Nasional

70

Berita Perbatasan

253

Pers Rilis

41

Berita Utama

725

Berita Terbaru

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/d564d152-71b9-4d89-9d26-bb9d699dbb4e.jpeg

Belajar dari Frontex: Model Kerja Sama Penanganan Perbatasan Negara di Mediterania dan Balkan

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/df51e9b2-5a8e-4335-bc64-e8630808364b.jpeg

Di Antara Kedaulatan dan Ketergantungan: Membaca Ulang Perbatasan Darat, Laut, dan Udara Indonesia–Singapura

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/df37dcd0-9727-4ce0-8700-940de3697c5f.jpg

Menjelajahi Serumpun Borneo: Wisata dan Kuliner Memikat dari Pontianak hingga Sarawak

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/b5bcb515-3034-4b57-8c88-886ca4899a10.jpeg

DWP PLBN Motamasin Gandeng PDGI NTT, Gelar Bakti Sosial Kesehatan Gigi Anak Perbatasan

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/26a2db7e-f36a-45c1-8460-4b389a5865b7.jpeg

Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara

Berita Terkait
Logo BNPP

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)

Location Icon

Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340

Phone Icon

021-31924491

Email Icon

info@bnpp.go.id

White Facebook Icon
White Twitter Icon
White Instagram Icon
White Tiktok Icon
White Youtube Icon

© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026