|
Berita
PLBN
150 Personel Terjun Langsung Tangani Wabah Mematikan di PLBN Motaain, Bagaimana Mekanisme Pencegahannya?
Dibuat Admin BNPP
17 May 2024, 11:34 WIB

BELU, NTT - Simulasi penanggulangan kejadian berpotensi wabah/KKM berlangsung di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) perbatasan Timor Leste pada Rabu (15/05/24) kemarin.
Sebanyak 150 personel terdiri atas personel TNI-Polri, pegawai PLBN Motaain serta unsur Customs, Immigration, Quarantine and Security turut bergabung dalam aksi menekan salah satu wabah penyakit mematikan yakni kolera (vibrio cholerae).
Kepala PLBN Motaain, Engelberthus Klau menjelaskan bahwa, sebelum dimulai telah dilaksanakan uji kesiapan dan kesesuaian dokumen rencana kontijengsi dan rencana pelaksanaan kegiatan simulasi penanggulangan kejadian penyakit berpotensi wabah/KKM di PLBN Motaain.
"Jenis penyakit yang dipilih untuk disimulasikan adalah penyakit kolera, sehingga perlu diketahui apakah sudah sesuai kebutuhan dalam dokumen perencanaan kegiatan dengan ketersediaan sumber daya, fasilitas, serta kondisi lokal masyarakat setempat," jelasnya.
Engelberthus kembali menjelaskan, bahwa pada satu hari sebelumnya, yakni Selasa (14/5) juga telah dilaksanakan gladi kotor simulasi yang melibatkan berbagai personel.
Kegiatan simulasi penanganan penyebaran wabah kolera terdiri atas 25 adegan dan tahapan.
Berikut 25 tahapan dalam simulasi tersebut:
Pada tahap awal dimulai saat kondisi sudah dinyatakan dalam tahap peningkatan kewaspadaan karena terjadi peningkatan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di negara tetangga. Simulasi dimulai saat kedatangan Bus Angkutan Lintas Batas Negara (ALBN) di depan gerbang PLBN Motaain.
Kernet Bus ALBN yakni Bus Sinar Gemilang yang mangangkut lintas kota dan provonsi turun sambil membawa manifest atau rincian jumlah penumpang dan melapor kepada petugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas). Isi laporan bahwa bus membawa 15 orang penumpang, 4 di antaranya menderita diare lebih dari 5 kali.
Disusul kemudian oleh kernet Bus Sinar Gemilang dari Timor Leste melaporkan hal yang sama, di mana dari 15 penumpang, 2 orang mengalami diare lebih dari 4 kali.
Petugas Pamtas melapor kepada kepala PLBN bahwa 2 bus akan masuk dengan membawa masing-masing 15 penumpang 6 di antaranya mengalami diare. Berdasarkan laporan dari Tim Pamtas, Kepala PLBN menghubungi Kepala BKK dan keamanan PLBN untuk menjaga 2 bus tersebut.
Koordinator Balai Karantina Kesehatan (BKK) menggerakkan tim petugas BKK untuk pemeriksaan bus beserta muatannya. Kedua bus yang datang dari negara tetangga diberhentikan di pintu kedatangan oleh tim security PLBN Motaain yang telah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), didampingi tim BKK.
Penumpang diturunkan dari kedua bus, yang terduga sakit dan kontak dipisahkan, diarahkan ke ruangan kedatangan dan tenda yang telah disiapkan.
Setelah semua penumpang diturunkan dan dipisahkan antara penumpang yang diare dengan yang tidak diare, petugas BKK. Petugas BKK selanjutnya berkoordinasi dengan Balai Karantina Hewan Tumbuhan dan Ikan, untuk mengarahkan kedua bus ke tempat carwash agar dilaksanakan desinfeksi dengan alat carwash untuk eksterior.
Selain itu dekontaminasi untuk interior, termasuk barang bagasi menggunakan bactiscan, sprayer dan lap dekon termasuk barang bagasi.
Sementara kedua bus dilaksanakan desinfeksi, penumpang yang tidak mengalami dehidrasi melanjutkan pengisian dokumen karantina berupa Ground Crossing Declaration of Health (GCDH) sambil dilaksanakan skrining.
Disaat skrining lanjutan untuk penumpang lain, ditemukan ada yang memiliki gejala buang air berat (BAB) terus menerus. Penumpang yang sakit dan terduga, dipisahkan dalam tenda isolasi sementara yang sudah disiapkan, di mana ditemukan 1 sakit dan 5 terduga lainnya.
Penumpang lain yang kontak diberikan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) risiko KLB kolera dan pengisian Health Alert Card (HAC) atau Kartu Kewaspadaan Kesehatan yang merupakan catatan semua pelaku perjalanan domestik dan internasional selama masa KLB.
Kembali ke penumpang HAC, setelah selesai lanjut pemeriksaan imigrasi dan Bea Cukai oleh petugas menggunakan APD minimal. Lanjut ke penumpang sakit dam terduga dalam tenda isolasi, dilakukan penanganan oleh petugas, pemeriksaan fisik, pengambilan sampel dan proses rehidrasi atau pemasangan infus.
Kepala BKK yang mendapatkan laporan dari tim yang melaksanakan skrining melapor kepada Kepala PLBN untuk menghubungi RS untuk merujuk pasien agar menapatkan penanganan lebih lanjut dan mengambil sampel untuk dikirim ke laboratorium RSPI di Jakarta.
Persiapan rujukan kasus dengan ambulans PLBN Motaain dan ambulans tambahan lain. Selanjutnya rujukan kasus ke RS dalam hal ini perjalanan ke RS dan penanganan di RS.
Dua pasien yang sudah dirujuk dengan ambulans, datang rombongan orang demo yang berisi tuntutan agar tidak dilakukan penahanan kepada orang yang melintas di PLBN Motaain. Melihat pendemo yang cukup banyak, Kepala PLBN menghubungi keamanan untuk mengahalu dan menemui pendemo.
Petugas keamanan bersiaga dan menjaga area sekitar tenda, namun suasana kian memanas. Terjadi keributan, petugas keamanan coba meredakan didampingi petugas karantina Saat terjadi keributan, tiba-tiba ada salah satu pendemo yang jatuh pingsan.
Petugas keamanan melakukan evakuasi pendemo yang pingsan ke area yang teduh, tenang dan jauh dari keributan untuk dilakukan pertolongan oleh tim medis.Ternyata org tersebut terkena serangan jantung, petugas melakukan resusitasi awal.
Kasus serangan jantung berhasil ditangani dan dilakukan rujukan ke rs untuk penanganan lebih lanjut. Petugas karantina dan keamanan berhasil meredakan keributan sehingga tidak menjadi lebih anarkis.
Kegiatan Simulasi Penanggulangan Kejadian Berpotensi wabah/KKM diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P).
Kegiatan simulasi ini bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) Dinas Kesehatan TNI AU, Pemerintah Provinsi NTT, Pemkab Belu dan lintas sektor program lainnya.
Untuk diketahui, kolera atau Cholera adalah penyakit infeksi yang mengganggu sistem pencernaan. Penularan kolera kerap kali berasal dari air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae.
Gejala utama yang dialami penderita kolera adalah diare parah serta dehidrasi. Kasus kolera banyak berkembang pada negara berkembang yang memiliki sistem sanitasi buruk, padat penduduk, area perang atau kawasan bencana alam.
Menurut data dari World Health Organization (WHO) mencatat angka kematian akibat kolera berkisar 21-143 ribu setiap tahunnya.
Penulis : Yohanes Mario Uran
Editor : Binsar Marulitua
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

PLBN Motaain Hadirkan Pasar Murah dan Samsat Keliling, Masyarakat Perbatasan Sambut Antusias

PLBN Skouw Gagalkan Upaya Pembawaan Amunisi oleh Pelintas Asal Papua Nugini

Program Kerja 2026 dan Akuntabilitas Anggaran Jadi Fokus BNPP RI dalam RDP Komisi II DPR RI

Arus Balik Lebaran 1447 H di PLBN Skouw Melandai, Posko Kesehatan Tetap Siaga hingga Akhir Maret

PLBN Jagoi Babang Terima Kunjungan Panglima Tentera Darat Malaysia, Perkuat Koordinasi Pengamanan Perbatasan

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026