|
Berita
Berita BNPP
Belajar dari India dan China: Ketika Perbatasan Menjadi Benteng Masa Depan Negara
Dibuat Admin BNPP
22 May 2026, 10:48 WIB


Oleh: Drs. Hamidin - Kelompok Ahli BNPP RI
Di banyak negara berkembang, kawasan perbatasan sering dipandang sebagai halaman belakang negara. Wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan, minim infrastruktur, sunyi, dan baru diperhatikan ketika muncul konflik atau sengketa. Padahal dalam geopolitik modern, perbatasan justru merupakan wajah pertama sebuah negara. Di sanalah kedaulatan diuji, kekuatan nasional dipertontonkan, dan masa depan pertahanan dibangun.
Negara-negara besar seperti India dan China memahami betul arti strategis kawasan perbatasan. Persaingan panjang kedua negara di kawasan Himalaya telah mengubah cara dunia melihat konsep pengelolaan perbatasan modern. Perbatasan tidak lagi hanya dipahami sebagai garis pada peta atau deretan patok beton di pegunungan terpencil. Ia telah berubah menjadi arena teknologi, diplomasi, logistik, ekonomi, hingga perang psikologis.¹
Bagi Indonesia, pelajaran dari India dan China menjadi sangat penting. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan pulau terluar dan jalur laut strategis internasional, Indonesia menghadapi tantangan perbatasan yang bahkan lebih kompleks dibanding negara-negara kontinental tersebut.
Perbatasan India–China membentang sekitar 3.488 kilometer melewati pegunungan tertinggi dan paling ekstrem di dunia. Wilayah itu dikenal sebagai Line of Actual Control atau LAC, sebuah garis kendali de facto yang hingga hari ini belum sepenuhnya disepakati kedua negara.² Di titik-titik seperti Ladakh, Arunachal Pradesh, dan Doklam Plateau, ketegangan militer masih kerap terjadi.
Bentrokan Galwan tahun 2020 menjadi salah satu titik paling serius dalam hubungan kedua negara dalam beberapa dekade terakhir. Puluhan tentara tewas dan kawasan Himalaya kembali berubah menjadi simbol rivalitas geopolitik Asia.³ Namun yang menarik bukan hanya konflik tersebut, melainkan bagaimana kedua negara mengelola kawasan perbatasannya secara sangat serius dan sistematis.
India dan China memahami satu hal penting: negara yang gagal mengelola perbatasannya akan perlahan kehilangan pengaruh, kontrol, bahkan kedaulatannya.
China misalnya, menjadikan kawasan perbatasan sebagai proyek geopolitik nasional jangka panjang. Di wilayah Tibet dan Xinjiang, pemerintah China membangun jalan raya militer, rel kereta cepat, lapangan udara, radar gunung, jaringan komunikasi fiber optik, hingga desa-desa modern yang sengaja ditempatkan dekat garis perbatasan.⁴ Desa-desa tersebut bukan sekadar kawasan pemukiman biasa, melainkan bagian dari strategi pertahanan negara.
Beijing memahami bahwa wilayah kosong adalah kelemahan strategis. Karena itu negara harus hadir hingga titik paling jauh melalui pembangunan ekonomi, internet, listrik, pendidikan, dan infrastruktur militer sekaligus. Warga perbatasan dalam perspektif China bukan sekadar penduduk, tetapi bagian dari sistem pertahanan nasional.
Pendekatan China terhadap pengelolaan perbatasan sangat berbasis teknologi. Kamera pengawas berbasis kecerdasan buatan, drone patroli, sensor panas, radar gunung, satelit, hingga pusat komando digital digunakan untuk memantau aktivitas sepanjang garis perbatasan secara real-time. Konsep ini dikenal sebagai smart border defense, yakni sistem pengawasan yang mengintegrasikan unsur sipil dan militer dalam satu sistem terpadu.⁵
China sadar bahwa perang masa depan tidak lagi hanya berbentuk perang konvensional antar-tentara. Ancaman bisa datang dalam bentuk infiltrasi kecil, sabotase digital, perang informasi, penyelundupan teknologi, hingga operasi intelijen tersembunyi. Karena itu pengawasan modern menjadi sama pentingnya dengan kekuatan pasukan tempur.
Sementara itu, India memiliki pendekatan berbeda namun tidak kalah serius. Sebagai negara demokrasi besar dengan medan Himalaya yang sangat berat, India mengandalkan kombinasi antara kekuatan militer, masyarakat lokal, dan pembangunan bertahap.
India menempatkan ribuan pasukan permanen di kawasan pegunungan tinggi. Banyak pos perbatasan mereka berada di atas ketinggian 4.000 meter dengan suhu ekstrem yang dapat membunuh manusia hanya dalam hitungan jam.⁶ Di wilayah Ladakh misalnya, tentara India hidup dalam bunker-bunker gunung sepanjang tahun demi menjaga garis perbatasan.
Selain tentara reguler, India juga mengandalkan Indo-Tibetan Border Police (ITBP), satuan elite penjaga perbatasan Himalaya yang terkenal tangguh menghadapi medan es, longsor, badai salju, dan oksigen tipis.⁷
Namun kekuatan India bukan hanya terletak pada pasukan militernya. India memahami pentingnya masyarakat lokal sebagai bagian dari pertahanan negara. Warga pegunungan Himalaya diberi ruang besar dalam sistem logistik, informasi lapangan, hingga dukungan sosial terhadap pasukan. Dalam banyak kasus, kedekatan budaya dan emosional masyarakat lokal menjadi faktor penting menjaga stabilitas kawasan perbatasan.⁸
Pasca bentrokan Galwan tahun 2020, India mempercepat pembangunan infrastruktur secara besar-besaran. Jalan militer, jembatan strategis, terowongan Himalaya, jaringan komunikasi, hingga bandara militer dibangun dengan cepat untuk mengejar ketertinggalan dari China.⁹ India memahami bahwa kekalahan logistik sama bahayanya dengan kekalahan dalam pertempuran.
Dari sini terlihat bahwa India dan China sebenarnya memiliki filosofi yang sama: perbatasan tidak boleh kosong dan negara harus hadir secara nyata.
Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia. Bila India dan China menghadapi perbatasan pegunungan, maka Indonesia menghadapi perbatasan laut yang jauh lebih luas dan terbuka. Indonesia memiliki ribuan pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan banyak negara seperti Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, Australia, Singapura, Vietnam, dan Palau.
Selain itu, Indonesia menguasai jalur laut strategis dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar yang menjadi jalur perdagangan internasional.¹⁰ Dalam konteks geopolitik global, posisi ini menjadikan Indonesia sangat strategis sekaligus sangat rentan.
Masalahnya, banyak kawasan perbatasan Indonesia selama puluhan tahun justru berkembang lebih lambat dibanding wilayah negara tetangga. Dalam beberapa kasus, masyarakat perbatasan lebih bergantung secara ekonomi kepada negara tetangga dibanding kepada pusat pemerintahan sendiri. Ini merupakan sinyal serius yang tidak boleh dianggap biasa.
China dan India menunjukkan bahwa pembangunan perbatasan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan proyek geopolitik nasional. Jalan di perbatasan bukan hanya untuk kendaraan sipil, tetapi untuk mobilisasi pertahanan. Internet bukan sekadar fasilitas komunikasi, tetapi alat pengawasan dan integrasi negara. Desa perbatasan bukan hanya pemukiman, tetapi simbol kehadiran kedaulatan.
Indonesia sebenarnya sudah mulai bergerak melalui pembangunan Pos Lintas Batas Negara modern di berbagai wilayah seperti Entikong, Skouw, Motaain, Wini, Sei Nyamuk, dan beberapa titik lainnya.¹¹ Wajah baru PLBN menunjukkan bahwa negara mulai hadir lebih baik di kawasan perbatasan.
Namun tantangan ke depan jauh lebih besar. Dunia sedang memasuki era persaingan geopolitik terbuka. Jalur laut internasional semakin diperebutkan, perang teknologi semakin intensif, dan ancaman non-konvensional semakin sulit diprediksi.
Karena itu Indonesia tidak cukup hanya membangun gedung PLBN yang megah. Indonesia harus membangun sistem pengawasan perbatasan yang benar-benar modern dan terintegrasi seperti yang dilakukan India dan China. Pengawasan maritim berbasis radar, drone laut, sensor digital, command center nasional, patroli terpadu, hingga perlindungan kabel bawah laut harus menjadi prioritas strategis.¹²
Selain itu, Indonesia juga perlu memperkuat masyarakat perbatasan sebagai garda depan negara. Jangan sampai masyarakat di pulau-pulau terluar merasa lebih dekat secara ekonomi dan psikologis dengan negara lain dibanding dengan Indonesia sendiri. Ini sangat berbahaya dalam jangka panjang.
China membangun loyalitas melalui pembangunan ekonomi. India membangun solidaritas melalui keterlibatan masyarakat lokal. Indonesia harus mampu melakukan keduanya sekaligus.
Yang juga penting dipahami adalah bahwa perbatasan modern bukan hanya soal ancaman militer. Ancaman bisa datang melalui penyelundupan narkotika, perdagangan manusia, pencurian ikan, infiltrasi siber, penyebaran ideologi ekstrem, hingga sabotase ekonomi. Karena itu pengelolaan perbatasan harus dilakukan secara lintas sektor, bukan semata tugas aparat keamanan.¹³
India dan China juga menunjukkan pentingnya diplomasi lapangan. Meski bersaing keras, kedua negara tetap memiliki mekanisme komunikasi langsung antar-komandan lapangan untuk mencegah konflik kecil berubah menjadi perang besar.¹⁴ Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan perbatasan modern membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan komunikasi.
Indonesia pun perlu memperkuat diplomasi perbatasan dengan negara-negara tetangga agar setiap persoalan dapat dikelola secara cepat sebelum berkembang menjadi sengketa terbuka.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari India dan China adalah bahwa negara kuat bukan hanya negara yang memiliki militer besar, tetapi negara yang mampu menghadirkan dirinya hingga ke titik paling jauh dari wilayahnya. Perbatasan bukan halaman belakang yang boleh dilupakan. Ia adalah wajah pertama negara, benteng pertama kedaulatan, sekaligus penentu masa depan geopolitik bangsa.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, Indonesia tidak boleh lagi memandang perbatasan sebagai wilayah pinggiran. Sebab sejarah selalu menunjukkan bahwa runtuhnya sebuah negara sering kali dimulai dari lemahnya kontrol terhadap wilayah terluarnya.
Dan di era geopolitik modern hari ini, menjaga perbatasan sesungguhnya bukan hanya menjaga tanah dan laut, tetapi menjaga masa depan Indonesia itu sendiri.
Humas BNPP RI
Catatan Kaki
1. Bertil Lintner, China’s India War: Collision Course on the Roof of the World (New Delhi: Oxford University Press, 2018).
2. Government of India, Ministry of External Affairs, “Agreements on the Maintenance of Peace and Tranquility along the Line of Actual Control,” New Delhi, 1993.
3. International Crisis Group, Standoff in the Himalayas: India-China Border Tensions, Brussels, 2021.
4. Xinhua News Agency, “China Expands Border Villages in Tibet and Xinjiang,” Beijing, 2024.
5. The State Council Information Office of China, China’s National Defense in the New Era, Beijing, 2019.
6. Shivshankar Menon, Choices: Inside the Making of India’s Foreign Policy (Washington D.C.: Brookings Institution Press, 2016).
7. Government of India, Ministry of Home Affairs, Indo-Tibetan Border Police Force Overview, New Delhi, 2024.
8. Carnegie Endowment for International Peace, The Future of India-China Border Relations, Washington D.C., 2023.
9. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Military Infrastructure and Strategic Competition in Asia, Stockholm, 2024.
10. ASEAN Studies Centre, Maritime Chokepoints and Regional Security in Southeast Asia, Singapore, 2024.
11. Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI), Pembangunan Pos Lintas Batas Negara dan Penguatan Kedaulatan Nasional, Jakarta, 2025.
12. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Strategi Pertahanan Negara di Kawasan Perbatasan dan Pulau Terluar, Jakarta, 2024.
13. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), Transnational Organized Crime in Southeast Asia, Bangkok, 2024.
14. Council on Foreign Relations, “Understanding the India-China Border Dispute,” New York, 2023.
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

Dari Konfrontasi Menuju Kerja Sama: Jalan Panjang Pengelolaan Perbatasan Indonesia–Malaysia
Dulu Susu dari Malaysia Lebih Menggairahkan Varian dan Rasanya

Dagang, Pangan, dan Simbiosis Ekonomi Indonesia–Malaysia di Kalimantan Barat

Belajar dari India dan China: Ketika Perbatasan Menjadi Benteng Masa Depan Negara

BNPP RI Percepat Penataan Ruang Eks OBP Simantipal dan Pulau Sebatik, Sinkronkan Rencana Lintas Kementerian

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026