|
Berita
Berita BNPP
Bara di Gerbang Utara: Cap Go Meh Singkawang, Ledakan Wisata Perbatasan dan Diplomasi Budaya Indonesia
Dibuat Admin BNPP
04 Mar 2026, 20:35 WIB



Oleh: Drs. Hamidin – Kelompok Ahli BNPP RI
Singkawang - Di utara Kalimantan Barat, ketika cahaya ribuan lampion merah menyala dan dentuman genderang barongsai menggema di udara, satu pesan kuat bergema hingga melampaui batas administratif negara: perbatasan Indonesia hidup, bergerak, dan bersinar.
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang hari ini tidak lagi sekadar ritual budaya tahunan, melainkan telah bertransformasi menjadi magnet regional yang menarik ribuan wisatawan mancanegara, khususnya dari negara tetangga, melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
Arus wisatawan dari Sarawak, Malaysia, hingga kawasan Asia Tenggara bergerak melintasi gerbang resmi negara bukan untuk berdagang atau bekerja, melainkan untuk menyaksikan sebuah peristiwa budaya-spiritual yang telah berusia ratusan tahun.
Momentum Cap Go Meh 2026 menegaskan bahwa kawasan perbatasan bukanlah halaman belakang republik, melainkan beranda depan Indonesia yang terang, berdenyut, dan produktif.
Dalam konteks inilah, keberadaan PLBN terpadu seperti PLBN Aruk dan PLBN Entikong menunjukkan peran strategisnya. Tidak hanya sebagai simbol kedaulatan negara, PLBN kini menjelma sebagai kanal mobilitas budaya, ekonomi, dan diplomasi rakyat.[1] Infrastruktur yang dahulu identik dengan pengawasan dan pengendalian, kini menjadi lorong keramahan yang mempertemukan bangsa-bangsa dalam suasana damai.
Singkawang yang dikenal luas sebagai Kota Seribu Kelenteng berubah menjadi panggung budaya raksasa. Sejak pagi hari, warna merah dan emas mendominasi ruang kota.
Pawai Cap Go Meh tahun ini mencatat partisipasi luar biasa: 523 Tatung bertandu, 108 Tatung tanpa tandu, 75 miniatur, 15 Jelangkung, tiga naga raksasa, dua barongsai raksasa, serta puluhan naga dan barongsai berukuran kecil dengan total keseluruhan mencapai 727 peserta. Angka ini mencerminkan skala dan daya hidup tradisi yang terus tumbuh.
Ratusan Tatung, figur spiritual yang diyakini dirasuki roh dewa atau leluhur memperagakan atraksi kekebalan tubuh yang ekstrem namun sakral. Menusukkan benda tajam ke pipi atau lidah, berdiri di atas tandu berpaku dan bersenjata, mereka menjalani ritual Chiong Si Ku, sebuah prosesi pembersihan kota dari energi negatif dan wabah penyakit.[2]
Bagi masyarakat setempat, inilah ekspresi doa kolektif demi keselamatan dan keseimbangan hidup.
Sejarah tradisi Tatung berakar kuat sejak tahun 1792, ketika komunitas penambang emas Tionghoa di Monterado dilanda wabah mematikan. Dari krisis tersebut lahir ikhtiar spiritual yang diwariskan lintas generasi.[3]
Tradisi yang bermula dari penderitaan itu kini menjelma kekuatan pemersatu, menyatukan beragam etnis dan keyakinan dalam satu tujuan bersama.
Keunikan Singkawang terletak pada akulturasi yang hidup. Tatung tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa, tetapi juga dari masyarakat Dayak yang memiliki tradisi spiritual serupa.
Atribut Dayak berpadu harmonis dengan ritual kelenteng, menegaskan bahwa spiritualitas di Singkawang tidak dibatasi identitas, melainkan disatukan oleh nilai kemanusiaan dan keselamatan bersama.
Gemuruh barongsai dan naga (liong) semakin menambah daya tarik perayaan. Puluhan naga sepanjang belasan meter meliuk di jalan raya, petasan memekakkan telinga, dan ribuan lampion menggantung di sudut kota, terutama di sekitar Vihara Tri Dharma Bumi Raya sebagai pusat ritual. Saat malam tiba, Singkawang berubah menjadi lautan cahaya dengan aura magis yang memikat wisatawan.
Puncak emosional perayaan hadir pada prosesi pembakaran naga. Setelah ritual Buka Mata saat Imlek, naga menjalani Tutup Mata sebelum akhirnya dibakar di ruang terbuka, kerap di sekitar Stadion Kridasana. Api yang melahap kerangka naga diyakini turut membakar segala kesialan dan energi buruk, meninggalkan harapan baru bagi masyarakat.[4]
Sebagian warga berebut sisa abu yang dipercaya membawa keberuntungan. Tradisi ini bukan takhayul kosong, melainkan simbol harapan kolektif: bahwa setiap tahun baru adalah kesempatan untuk memulai dari nol, membersihkan luka, dan menata masa depan.
Di balik kemegahan budaya tersebut, denyut ekonomi kawasan perbatasan bergetar kuat. Tingkat hunian hotel melonjak, restoran dan UMKM kewalahan melayani permintaan, transportasi dari Pontianak menuju Singkawang nyaris tanpa jeda.
Lonjakan wisatawan lintas negara melalui PLBN membuktikan bahwa kalender budaya dapat menjadi instrumen strategis perencanaan ekonomi dan pengelolaan keamanan perbatasan.[5]
Inilah wajah baru perbatasan Indonesia. Ia tidak lagi identik dengan keterisolasian atau kerentanan. Melalui penguatan PLBN terpadu, pemerintah menghadirkan fasilitas modern yang merepresentasikan wibawa negara sekaligus kenyamanan pengunjung.[6] Koordinasi Imigrasi, Bea Cukai, Karantina, TNI-Polri, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar lonjakan kunjungan tetap tertib dan aman.
Cap Go Meh juga memiliki dimensi historis-politik yang penting. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa dibatasi melalui Inpres No. 14 Tahun 1967. Tradisi ini sempat dirayakan secara tertutup. Reformasi membuka kran kebebasan, dan kini festival ini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.[7] Transformasi dari ritual lokal menjadi agenda internasional adalah kisah kebangkitan identitas yang dirawat dalam bingkai kebangsaan.
Lebih jauh, Cap Go Meh adalah diplomasi tanpa meja perundingan. Wisatawan dari Sarawak, Brunei, hingga Singapura datang bukan karena promosi bombastis, melainkan karena reputasi harmoni yang otentik. People-to-people contact semacam ini memperkuat fondasi stabilitas regional sebagaimana digariskan dalam Cetak Biru Komunitas Sosial Budaya ASEAN.[8] Ketika masyarakat lintas negara berinteraksi dalam suasana damai, rasa saling percaya tumbuh lebih efektif daripada retorika politik.
Bagi BNPP RI, fenomena ini mempertegas bahwa pengelolaan perbatasan harus berbasis kesejahteraan dan budaya. Nasionalisme yang kokoh tidak lahir dari pagar tinggi, tetapi dari rasa bangga dan sejahtera warga perbatasan. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari festival budayanya, mereka menjadi penjaga kedaulatan paling setia.
Tentu, tantangan tetap ada. Komersialisasi berlebihan dapat mengikis makna sakral. Karena itu, keseimbangan antara profesionalitas pariwisata dan otentisitas ritual harus dijaga. Peran tokoh adat, pengurus vihara, dan pemerintah daerah menjadi krusial agar bara spiritual tidak redup oleh gemerlap komersial.
Pada akhirnya, Cap Go Meh Singkawang adalah metafora Indonesia itu sendiri: beragam namun satu, sakral namun terbuka, lokal namun mendunia. Di kota ini, identitas etnis melebur menjadi identitas kemanusiaan. Warga Melayu membantu mengatur lalu lintas, pemuda gereja menyediakan konsumsi, aparat keamanan menjaga khidmat ritual. Jadwal pawai disesuaikan agar tidak berbenturan dengan azan atau kebaktian. Harmoni di sini bukan teori, melainkan praktik sehari-hari.
Ketika bara naga padam dan wisatawan kembali melintasi PLBN menuju negaranya, yang mereka bawa bukan hanya foto dan cendera mata. Mereka membawa narasi tentang Indonesia yang ramah, kuat, dan penuh warna. Sebuah negeri yang mampu menjadikan perbatasan sebagai panggung persaudaraan.
Di Singkawang, kita belajar bahwa garis batas bisa berubah menjadi jembatan. Dan Cap Go Meh adalah api yang hidup dan mampu menyalakan jembatan itu—menerangi ekonomi, mempertebal toleransi, dan menegaskan bahwa di gerbang utara republik, Indonesia berdiri dengan wajah paling bersinar. Hal yang terlihat dengan jelas dan tercermin dari hadirnya sejumlah tokoh nasional seperti Mendagri Tito Karnavian, Menko AHY , Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Manuara Sirait, termasuk perwakilan MPR DPR, tokoh masyarakat , dan ikut seta Kelompok Ahli dari BNPP RI Drs. Hamidin yang memberikan apresiasi atas tingginya nilai toleransi di Kota Singkawang. Luar biasa - Indonesia Hebat Bersinar
Humas BNPP RI
Catatan Kaki
[1] Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, Laporan Pembangunan Pos Lintas Batas Negara Terpadu, Jakarta, 2024.
[2] Dinas Pariwisata Kota Singkawang, Sejarah dan Makna Ritual Tatung, 2023.
[3] Mary Somers Heidhues, Golddiggers, Farmers, and Traders in the “Chinese Districts” of West Kalimantan, Cornell University Press, 2003.
[4] Panitia Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Rangkaian Ritual Cap Go Meh 2026.
[5] Kantor Imigrasi Kelas II TPI Singkawang, Data Perlintasan PLBN Aruk 2024–2025.
[6] BNPP RI, Grand Design Pengelolaan Perbatasan Negara 2020–2024, Jakarta.
[7] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Festival Cap Go Meh Singkawang.
[8] ASEAN Secretariat, ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint 2025, Jakarta.
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

BNPP RI Pacu Pembangunan PLBN Temajuk, Perkuat Kedaulatan dan Ekonomi Perbatasan

Rutin Ekspor, PLBN Entikong Tunjukkan Tren Positif Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Perbatasan

BNPP RI Perkuat Pelayanan Humanis di PLBN Skouw dengan Pendekatan Bahasa Lintas Negara

Bara di Gerbang Utara: Cap Go Meh Singkawang, Ledakan Wisata Perbatasan dan Diplomasi Budaya Indonesia

BNPP RI Perkuat SDM Perbatasan Belu, Kolaborasi Baznas, Pertamina Foundation , dan BRI Dorong Tenun Lokal Naik Kelas

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026