|
Berita
Berita BNPP
Indonesia Bersyukur, Namun Tidak Boleh Lengah di Tengah Dunia yang Terfragmentasi
Dibuat Admin BNPP
22 Feb 2026, 17:07 WIB



Oleh: Drs. Hamidin – Kelompok Ahli BNPP RI
Selatpanjang - Dinamika global saat ini bergerak menuju fase yang semakin kompleks dan terfragmentasi. Tatanan internasional yang selama puluhan tahun dibangun di atas fondasi globalisasi kini menghadapi tekanan serius dari berbagai arah.
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan penyelesaian permanen, sementara eskalasi di kawasan Timur Tengah terus berulang dengan pola yang sulit diprediksi. Di saat yang sama, rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok berkembang menjadi kompetisi strategis jangka panjang yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan global.
Di tengah lanskap dunia yang penuh ketidakpastian tersebut, Indonesia patut bersyukur. Stabilitas politik nasional relatif terjaga, proses transisi kepemimpinan berlangsung konstitusional, dan konflik horizontal tidak berkembang menjadi krisis nasional. Namun, rasa syukur itu tidak boleh menjelma menjadi sikap lengah.
Fragmentasi global membawa implikasi langsung terhadap kedaulatan negara, ketahanan nasional, dan stabilitas kawasan, termasuk bagi Indonesia sebagai negara kepulauan besar.
Laporan Global Risks Report 2024 yang dirilis oleh World Economic Forum menempatkan konflik bersenjata antarnegara dan disinformasi menjadi risiko paling signifikan dalam dua tahun ke depan.¹ Dunia tidak hanya terbelah secara geopolitik, tetapi juga secara informasi, ekonomi, dan teknologi. Polarisasi ini mendorong terbentuknya blok-blok baru dalam perdagangan, rantai pasok, hingga keamanan global.
Kompetisi Amerika Serikat dan Tiongkok kini tidak lagi sebatas retorika diplomatik. Pembatasan ekspor semikonduktor, perlombaan kecerdasan buatan, serta perebutan kendali atas rantai pasok mineral kritis menunjukkan bahwa dunia bergerak menuju “de-risking” dan bahkan “decoupling” parsial. Indonesia, dengan cadangan nikel strategisnya, menjadi bagian dari persaingan ini.² Situasi ini membuka peluang ekonomi yang besar, namun sekaligus menghadirkan potensi tekanan politik yang perlu dikelola secara cermat dan berdaulat.
Pelajaran penting juga datang dari konflik Rusia–Ukraina yang menunjukkan bagaimana perang regional mampu memicu guncangan global, mulai dari krisis energi, lonjakan harga pangan, hingga instabilitas keuangan.³
Ketergantungan berlebihan pada rantai pasok global yang terpusat terbukti menjadi titik lemah banyak negara. Bagi Indonesia, hal ini menegaskan urgensi memperkuat kemandirian strategis, khususnya di sektor pangan, energi, dan industri pertahanan.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan khas dalam menjaga wilayah perbatasan. Kawasan perbatasan bukan sekadar garis imajiner di peta, melainkan ruang hidup masyarakat yang rentan terhadap penyelundupan, perdagangan ilegal, infiltrasi ideologi, hingga kejahatan lintas negara.
Fragmentasi global berpotensi meningkatkan aktivitas aktor non-negara yang memanfaatkan celah pengawasan perbatasan.
Di tingkat regional, Asia Tenggara relatif lebih stabil dibandingkan kawasan lain. Peran ASEAN sebagai forum dialog dan kerja sama tetap relevan. Namun, kohesi internal ASEAN juga menghadapi ujian akibat perbedaan kepentingan negara anggota serta tekanan eksternal dari kekuatan besar. Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan masih menjadi potensi eskalasi yang menuntut diplomasi aktif dan konsisten.⁴
Dalam konteks ini, politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan Indonesia sejak era Soekarno tetap menjadi landasan strategis. Prinsip tersebut memungkinkan Indonesia menjaga jarak dari tarik-menarik kepentingan kekuatan besar tanpa bersikap pasif.
Di era multipolar yang semakin keras, bebas aktif harus dimaknai sebagai keberanian membangun kerja sama fungsional yang saling menguntungkan, sembari menjaga otonomi strategis nasional.
Ketahanan nasional juga tidak lagi dapat dipersempit pada aspek militer semata. Disinformasi dapat menggerus kepercayaan publik terhadap negara, serangan siber berpotensi melumpuhkan sistem vital, dan ketergantungan ekonomi eksternal dapat membatasi ruang kebijakan.
Fragmentasi global menciptakan medan kompetisi yang melibatkan seluruh spektrum kekuatan nasional, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan.
Indonesia patut bersyukur karena demokrasi tetap berjalan relatif stabil. Namun demokrasi juga memiliki kerentanan terhadap manipulasi informasi dan polarisasi identitas. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa konflik internal sering kali diperparah oleh intervensi narasi eksternal.
Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan ketahanan sosial menjadi sama pentingnya dengan modernisasi alat utama sistem persenjataan.
Di bidang ekonomi, strategi nasional perlu diarahkan pada diversifikasi dan hilirisasi berkelanjutan. Ketergantungan pada ekspor bahan mentah berisiko menempatkan Indonesia hanya sebagai objek dalam persaingan global.
Penguatan industri dalam negeri, inovasi teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prasyarat agar Indonesia mampu naik kelas dalam rantai nilai global.
Indonesia juga dituntut memperkuat diplomasi pertahanan dan keamanan maritim. Sebagai negara dengan jalur laut strategis, stabilitas Selat Malaka dan perairan sekitarnya merupakan kepentingan vital.
Fragmentasi global berpotensi meningkatkan intensitas kehadiran militer asing di kawasan Indo-Pasifik, yang menuntut kewaspadaan dan kebijakan maritim yang tegas namun terukur.
Bersyukur berarti menyadari bahwa Indonesia hingga kini tidak terjebak dalam konflik terbuka. Namun bersyukur juga berarti bekerja keras agar kondisi tersebut tetap terjaga. Dunia yang terfragmentasi menuntut kewaspadaan berlapis, mulai dari kebijakan ekonomi, penguatan wilayah perbatasan, hingga pembangunan karakter kebangsaan.
Sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang bebas dari ancaman, melainkan bangsa yang mampu mengelola ancaman secara adaptif dan berdaulat.
Indonesia memiliki modal demografi, sumber daya alam, serta posisi geografis yang strategis. Tantangan ke depan adalah memastikan seluruh modal tersebut dikelola dalam kerangka kepentingan nasional jangka panjang.
Indonesia bersyukur, tetapi tidak boleh lengah. Di tengah dunia yang semakin terbelah, Indonesia harus tetap berdiri sebagai bangsa yang utuh, tangguh, dan berdaulat, khususnya dari beranda terdepan wilayah perbatasannya.
Catatan Kaki
1. World Economic Forum. Global Risks Report 2024. Geneva: WEF, 2024.
2. International Energy Agency. Global Critical Minerals Outlook 2023. Paris: IEA, 2023.
3. United Nations. “Global Impact of the War in Ukraine on Food, Energy and Finance Systems.” UN Briefing Paper, 2023.
4. Association of Southeast Asian Nations. “Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea.” Phnom Penh, 2002.
(Humas BNPP RI)
Share
Kategori Berita
Berita BNPP
PLBN
Berita Nasional
Berita Perbatasan
Pers Rilis
Berita Utama
Berita Terbaru

Dari Geylang ke Batam: Membaca Sinyal Perubahan Ekonomi Perbatasan

Indonesia Bersyukur, Namun Tidak Boleh Lengah di Tengah Dunia yang Terfragmentasi

Selatpanjang, Permata Perbatasan Indonesia di Jalur Strategis Selat Malaka

Sekretaris BNPP RI Tutup Festival Perang Air Cian Cui 2026, Perkuat Harmoni Budaya dan Ekonomi Perbatasan Meranti

BNPP RI Fasilitasi KKR Lintas Negara di PLBN Sota, Perkuat Persaudaraan Rohani Perbatasan RI–PNG

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)
Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
021-31924491
info@bnpp.go.id
© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026