Logo BNPP
Badan Nasional Pengelola PerbatasanRepublik Indonesia (BNPP RI)
Beranda

|

Berita

Berita BNPP

Perang di Dasar Laut: Ketika Kabel Hormuz Terputus, Dunia Bisa Lumpuh dan Indonesia Tak Boleh Lengah

Dibuat Admin BNPP

16 Mar 2026, 14:15 WIB

Perang di Dasar Laut: Ketika Kabel Hormuz Terputus, Dunia Bisa Lumpuh dan Indonesia Tak Boleh Lengah
Perang di Dasar Laut: Ketika Kabel Hormuz Terputus, Dunia Bisa Lumpuh dan Indonesia Tak Boleh Lengah

Oleh: Drs. Hamidin – Kelompok Ahli BNPP RI


Selama ini, imajinasi publik tentang perang modern kerap dipenuhi gambaran dentuman senjata, manuver jet tempur, dan pergerakan armada laut di permukaan samudra. Namun realitas konflik abad ke-21 bergerak jauh lebih sunyi dan jauh lebih berbahaya.


Perang masa depan tidak selalu diawali oleh tembakan pertama. Ia bisa dimulai dengan satu tindakan sederhana namun mematikan, yakni memutus kabel komunikasi bawah laut.


Di balik permukaan laut yang tampak tenang, terbentang lebih dari satu juta kilometer kabel serat optik yang menjadi tulang punggung konektivitas global. 


Infrastruktur ini menopang lebih dari 95 persen lalu lintas data dunia, mulai dari transaksi keuangan lintas negara, komunikasi diplomatik, navigasi militer, hingga aktivitas jaringan internet yang menopang kehidupan modern.[1]


Ketika jaringan ini terganggu dalam skala besar, dunia tidak sekadar mengalami gangguan internet, melainkan menghadapi potensi kelumpuhan ekonomi, finansial, dan keamanan global.


Salah satu titik paling rentan dalam jaringan strategis tersebut adalah Selat Hormuz. Selama ini, Hormuz dikenal luas sebagai jalur vital perdagangan energi dunia. Namun di balik reputasinya sebagai chokepoint minyak global, selat ini juga merupakan simpul strategis komunikasi digital internasional.


Di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Teluk, risiko terhadap infrastruktur digital bawah laut di wilayah ini kian nyata dan tidak bisa diabaikan.


Selat Hormuz: Jantung Komunikasi Global yang Rentan


Secara geopolitik, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintas di kawasan ini setiap hari. Namun di balik peran tersebut, Hormuz juga dilintasi berbagai kabel optik internasional yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, dan Asia.


Sistem kabel seperti FALCON (Fibre Optic Link Around the Globe), Europe India Gateway (EIG), hingga jaringan Gulf Bridge International (GBI) menopang arus data berkapasitas besar yang digunakan oleh bank internasional, perusahaan energi multinasional, lembaga pemerintahan, serta sistem keamanan dan pertahanan.


Masalahnya, kabel-kabel ini melintasi perairan dangkal dengan kedalaman rata-rata hanya 50 hingga 100 meter. Kondisi ini membuatnya jauh lebih rentan dibandingkan kabel laut di samudra dalam. 


Risiko kerusakan dapat muncul akibat jangkar kapal tanker, aktivitas perikanan, pergeseran geologi, hingga yang paling berbahaya tindakan sabotase yang disengaja dalam konflik geopolitik.


Perang Kabel Bawah Laut: Senjata Sunyi Negara-Negara Besar


Dalam beberapa tahun terakhir, para analis keamanan internasional mulai menyoroti fenomena yang dikenal sebagai "undersea cable warfare" atau perang kabel bawah laut. 


Infrastruktur komunikasi laut kini dipandang sebagai target strategis yang nilainya setara dengan pangkalan militer atau pelabuhan energi.


Dengan memutus kabel komunikasi lawan, sebuah negara dapat melumpuhkan sistem keuangan, mengganggu koordinasi militer, serta menciptakan kekacauan ekonomi tanpa harus melancarkan serangan terbuka. 


Sejumlah laporan keamanan internasional mencatat meningkatnya aktivitas pemetaan kabel laut oleh kapal riset dan kapal selam negara-negara besar.


Salah satu negara yang sering disebut dalam diskursus ini adalah Rusia. Sejak beberapa tahun terakhir, NATO menyatakan kekhawatiran terhadap aktivitas kapal penelitian Rusia yang diduga memetakan jaringan kabel optik di Atlantik.[2]


Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya juga memperketat pengamanan infrastruktur komunikasi bawah laut mereka. 


Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dalam konflik global berskala besar, memutus beberapa kabel strategis saja sudah cukup untuk menciptakan gangguan ekonomi global dalam hitungan jam.


Kabel laut dengan demikian telah menjadi target strategis yang sama pentingnya dengan pangkalan militer atau pelabuhan energi.


Krisis Hormuz 2026: Ancaman yang Kian Nyata


Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk pada 2026 memperlihatkan betapa rapuhnya sistem komunikasi global. Pembatasan lalu lintas kapal dan meningkatnya aktivitas militer di Selat Hormuz membuat kapal pemeliharaan kabel laut kesulitan beroperasi.


Dalam kondisi normal, perbaikan kabel membutuhkan waktu beberapa minggu. Namun di zona konflik aktif, pemulihan jaringan bisa tertunda hingga berbulan-bulan. 


Situasi ini semakin kompleks karena gangguan juga terjadi di Laut Merah dan Bab el-Mandeb, dua chokepoint penting lainnya bagi kabel komunikasi global. Untuk pertama kalinya, dunia menghadapi risiko terganggunya beberapa simpul komunikasi utama secara bersamaan.


Jika skenario terburuk terjadi, misalnya sabotase terhadap sejumlah kabel utama di Selat Hormuz, dampaknya tidak akan bersifat regional. Gelombang gangguan komunikasi berpotensi menjalar ke seluruh dunia.


Dunia Tanpa Kabel: Ekonomi Global Bisa Terhenti


Anggapan bahwa satelit dapat sepenuhnya menggantikan kabel bawah laut adalah keliru. Kapasitas satelit hanya mampu menampung sebagian kecil lalu lintas data global dan memiliki tingkat keterlambatan yang jauh lebih tinggi.


Pemutusan beberapa kabel utama tidak serta-merta mematikan internet, tetapi dapat memicu perlambatan digital besar-besaran. 


Transaksi keuangan internasional tertunda, bursa saham terganggu, rantai logistik global tersendat, dan komunikasi militer lintas negara berpotensi terhambat. Inilah sebabnya banyak negara kini memasukkan perlindungan kabel laut sebagai bagian dari doktrin keamanan nasional.[3]


Dampak Tidak Langsung bagi Indonesia


Bagi Indonesia, krisis di Selat Hormuz mungkin tampak jauh secara geografis. Namun dalam sistem global yang saling terhubung, gangguan di satu titik dapat memicu efek domino.


Sebagian trafik data internasional Indonesia menuju Eropa masih melewati jalur Barat yang terhubung dengan Timur Tengah. Jika jalur ini terganggu, data harus dialihkan melalui rute alternatif yang lebih panjang, meningkatkan latency internet dan berpotensi memengaruhi layanan keuangan, komunikasi bisnis, serta keamanan siber nasional.


Selain itu, krisis Hormuz juga berpotensi mendorong lonjakan harga energi global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional. 


Sebagai negara kepulauan yang bergantung pada jalur logistik dan konektivitas global, Indonesia tidak bisa memandang risiko ini sebagai isu eksternal semata.


Pelajaran Strategis bagi Pengelolaan Perbatasan


Krisis kabel bawah laut di Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bagi pengelolaan perbatasan Indonesia. Pertama, konsep pengamanan perbatasan harus diperluas, tidak hanya mencakup wilayah darat dan laut, tetapi juga infrastruktur digital bawah laut.


Kedua, pengawasan terhadap kabel komunikasi laut yang melintas di wilayah Indonesia perlu diperkuat. Ribuan kilometer kabel domestik dan internasional menopang konektivitas nasional, namun perlindungannya masih relatif terbatas.


Ketiga, pengawasan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) harus ditingkatkan seiring potensi pergeseran jalur pelayaran global ke kawasan Indo-Pasifik. Kepadatan lalu lintas kapal berarti meningkatnya risiko terhadap keamanan maritim dan infrastruktur bawah laut.


Keempat, sinergi antarinstansi seperti Bakamla, TNI AL, dan Polairud perlu diperkuat untuk mengantisipasi ancaman nonkonvensional, termasuk sabotase infrastruktur bawah laut.


Selat Hormuz dan Cermin Masa Depan Konflik Global


Apa yang terjadi di Selat Hormuz sejatinya adalah cermin masa depan konflik global. Perang tidak selalu dimulai dengan invasi terbuka, tetapi dengan melumpuhkan jaringan yang menopang peradaban modern. 


Dalam konteks ini, memutus kabel komunikasi bisa lebih efektif daripada menghancurkan pelabuhan atau pangkalan militer.


Indonesia, sebagai negara kepulauan strategis di jalur perdagangan dunia, tidak boleh menunggu hingga krisis itu terjadi di wilayahnya sendiri. Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok memiliki nilai strategis yang setara dengan Hormuz, baik di permukaan maupun di dasar lautnya.


Kesadaran strategis terhadap infrastruktur digital bawah laut harus dibangun sejak sekarang, menjadi bagian integral dari kebijakan pengelolaan perbatasan dan pertahanan nasional. 


Karena di era digital, perang sering kali tidak terlihat. Ia bergerak diam-diam di kedalaman laut, mengikuti jalur kabel yang membawa denyut komunikasi dunia.


Dan ketika kabel itu terputus, dunia bisa lumpuh.

Pertanyaannya Apakah Indonesia akan menunggu sampai krisis itu terjadi di wilayahnya sendiri, atau mulai membangun kesadaran strategis sejak sekarang?


Humas BNPP RI

Catatan Kaki


1. Nicole Starosielski. The Undersea Network. Durham: Duke University Press, 2015.


2. U.S. Congressional Research Service. Undersea Fiber Optic Cables: Security Threats and Policy Issues. Washington DC, 2015.


3. International Cable Protection Committee. Submarine Cable Security and Resilience. London, 2023.


4. TeleGeography. Submarine Cable Map and Global Bandwidth Report. 2024.


5. International Telecommunication Union. Global Connectivity Report. Geneva, 2023.

Share

Kategori Berita

Berita BNPP

1151

PLBN

725

Berita Nasional

70

Berita Perbatasan

253

Pers Rilis

41

Berita Utama

725

Berita Terbaru

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/01885cae-a1be-41e2-adcc-52d6552653a7.jpeg

Perang di Dasar Laut: Ketika Kabel Hormuz Terputus, Dunia Bisa Lumpuh dan Indonesia Tak Boleh Lengah

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/a425e9f2-1afa-4ee0-b7b5-e016f97a59ac.jpeg

Satgas Pamtas RI–Malaysia Gagalkan Penyelundupan Ratusan Botol Miras Ilegal di Pos Long Nawang

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/31ba3949-1ea8-4f9b-a922-55113911eb14.jpeg

Jika Kabel Hormuz Terputus: Dunia Bisa Gelap, Indonesia Harus Bersiap

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/a1591bd1-3ddf-4310-bc78-eba26fdb34cc.jpeg

Jika Selat Hormuz Ditutup Total - Indonesia di Ambang Krisis Energi dan Geopolitik

https://apibackend.bnpp.go.id/images/news/8f4c9299-6024-4909-8efe-44db790832ad.jpeg

BNPP RI Perkuat Kesadaran Hukum Nelayan Merauke untuk Keselamatan Melaut dan Kedaulatan Batas Maritim

Berita Terkait
Logo BNPP

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI)

Location Icon

Jl. Kebon Sirih No.31A, RT.1/RW.5, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340

Phone Icon

021-31924491

Email Icon

info@bnpp.go.id

White Facebook Icon
White Twitter Icon
White Instagram Icon
White Tiktok Icon
White Youtube Icon

© Badan Nasional Pengelola Perbatasan - 2026